Tiga Tahun Perang Rusia-Ukraina: Ketahanan, Strategi, dan Dampaknya terhadap DuniaTiga Tahun Perang Rusia-Ukraina: Ketahanan, Strategi, dan Dampaknya terhadap Dunia

Berita Dunia Terkini – Sudah tiga tahun berlalu sejak Rusia memulai apa yang disebut oleh Presiden Vladimir Putin sebagai “operasi militer khusus” di Ukraina pada Februari 2022. Konflik yang awalnya diprediksi oleh banyak pihak di dunia Barat akan berakhir dengan kegagalan Rusia dalam hitungan bulan, ternyata berkembang menjadi sebuah pertarungan panjang yang penuh dengan ketegangan geopolitik. Sementara penderitaan rakyat sipil semakin dalam, banyak pihak menilai strategi Rusia sebagai langkah yang keliru dan merugikan. Namun, di balik pertempuran yang berkepanjangan ini, pertanyaan yang muncul adalah: apakah strategi Putin benar-benar berhasil ataukah hanya ilusi sementara di tengah kerugian yang tak terucapkan?

Tujuan Awal Rusia dan Perkembangannya

Saat perang dimulai, Putin menetapkan tiga tujuan utama: denazifikasi, yang bertujuan untuk menghapus pengaruh kelompok neonazi di pemerintahan dan militer Ukraina; demiliterisasi, untuk mengurangi kemampuan militer Ukraina yang dianggap menjadi ancaman bagi Rusia; serta netralitas, memastikan Ukraina tidak bergabung dengan NATO, sebuah garis merah yang dianggap tidak boleh dilintasi. Dunia Barat awalnya meremehkan tujuan-tujuan ini, menganggapnya tidak realistis, bahkan menggelikan. Banyak analisis internasional memprediksi bahwa Rusia akan segera runtuh akibat tekanan ekonomi, militer, dan diplomatik. Namun, setelah tiga tahun, kita melihat gambaran yang jauh berbeda. Rusia telah menguasai hampir 20% wilayah Ukraina, termasuk wilayah strategis seperti Donbas dan Krimea, yang mereka rebut sejak 2014.

Strategi Jangka Panjang Putin

Meskipun kemajuan Rusia di lapangan terlihat, Putin tidak sepenuhnya tepat dalam perkiraannya. Awalnya, ia percaya bahwa perang ini akan berlangsung singkat, dengan Ukraina jatuh dalam hitungan hari atau minggu. Namun kenyataannya, Ukraina di bawah kepemimpinan Presiden Volodymyr Zelenskyy berhasil bertahan, bahkan semakin kuat dalam menghadapi invasi. Perang yang semula direncanakan sebagai serangan cepat, berubah menjadi perang gesekan yang melelahkan dan menguras sumber daya kedua belah pihak. Dalam menghadapi kenyataan ini, Putin menunjukkan sebuah pendekatan yang berbeda: kesabaran.

Ia tidak terburu-buru untuk mencapai kemenangan, melainkan memilih untuk bertahan dalam jangka panjang. Strategi ini menjadi pelajaran berharga dalam ketahanan geopolitik. Dunia Barat mengharapkan Rusia akan runtuh dalam waktu singkat, namun Putin justru membuktikan bahwa kemenangan tidak selalu diukur dari kecepatan, melainkan dari kemampuan untuk bertahan dan terus maju meskipun langkahnya lambat.

Strategi Barat dan Dampaknya

Barat, yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan NATO, merancang strategi mereka sendiri untuk menghentikan Rusia, dengan tiga pilar utama: sanksi ekonomi, dukungan militer besar-besaran untuk Ukraina, dan isolasi diplomatik terhadap Putin. Namun, setelah tiga tahun, kita melihat bahwa strategi ini tidak sepenuhnya berhasil.

Sanksi Ekonomi Rusia yang Tidak Memadai

Hingga Maret 2025, lebih dari 24.000 sanksi telah dijatuhkan terhadap Rusia, jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern. Presiden AS Joe Biden bahkan pernah menyatakan bahwa mata uang rubel akan runtuh. Namun, kenyataannya, ekonomi Rusia justru tumbuh sebesar 4% pada tahun fiskal 2024-2025, melebihi pertumbuhan rata-rata negara-negara G7 yang hanya mencapai 1,7%. Rubel tetap stabil di kisaran 88 per dolar AS. Hal ini terjadi karena Rusia berhasil beradaptasi dengan cepat, mencari pasar baru di luar Barat dan memperkuat ketahanan ekonominya.

Dukungan Militer yang Tidak Cukup

Barat telah mengucurkan miliaran dolar dalam bentuk senjata, pelatihan, dan intelijen untuk membantu Ukraina bertahan. Namun, meskipun bantuan ini sangat besar, itu tidak cukup untuk membalikkan keadaan sepenuhnya. Rusia terus maju, meski perlahan, dan strategi perang gesekan mereka semakin membuat Ukraina kesulitan untuk mempertahankan posisinya di beberapa front.

Isolasi Diplomatik Rusia yang Gagal

Barat berharap dengan mengisolasi Putin di panggung internasional, mereka bisa menekan Rusia lebih jauh. Namun, alih-alih terisolasi, Putin justru berhasil memperluas jaringan diplomatiknya. Ia membuka pintu kerja sama dengan negara-negara non-Barat seperti China, India, dan negara-negara di Afrika serta Amerika Latin. Kelompok BRICS yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan malah semakin memperluas pengaruhnya sebagai alternatif bagi tatanan global yang didominasi oleh Barat.

Langkah-Langkah Strategis Rusia

Terdapat tiga langkah strategis utama yang menjadi kunci ketahanan Rusia dalam konflik ini:

  1. Menghambat Akses Militer Barat ke Ukraina
    Putin sering menggunakan retorika nuklir, menggelar latihan senjata nuklir, dan memberikan peringatan keras kepada NATO bahwa setiap intervensi langsung akan membawa konsekuensi serius. Strategi ini menciptakan rasa ragu di kalangan negara-negara NATO.
  2. Ketahanan Ekonomi yang Luar Biasa
    Ketika pasar Barat menutup pintunya, Rusia beralih ke Timur, mengalihkan ekspor minyak dan gas ke India dan China dengan harga diskon. Rusia juga memperkuat kerja sama dengan negara-negara BRICS, menciptakan pasar alternatif yang memungkinkan ekonominya tetap bertahan.
  3. Fleksibilitas Diplomatik
    Putin menjaga pintu negosiasi tetap terbuka, berharap bahwa Barat pada akhirnya akan kelelahan. Hal ini terbukti benar dengan kembalinya Donald Trump sebagai Presiden AS pada 2025, yang menyatakan keinginannya untuk mengakhiri perang ini secepat mungkin.

Kelemahan Strategi Putin

Namun, meski langkah-langkah strategis Putin terlihat cerdas, ada kelemahan yang tak bisa di abaikan. Salah satunya adalah kontrol penuh yang di milikinya atas narasi domestik. Berbeda dengan para pemimpin Barat yang harus menghadapi tekanan politik domestik dan oposisi, Putin dapat menjalankan strategi tanpa hambatan signifikan dari lawan politik di dalam negeri. Namun, kemewahan ini juga dapat menjadi titik lemah ketika di lihat dari sudut pandang global.

Dampak Perang bagi Dunia

Perang ini tidak hanya berdampak pada Ukraina dan Rusia, tetapi juga pada dunia secara keseluruhan. Harga energi melonjak akibat gangguan pasokan gas Rusia ke Eropa, dan pasokan gandum dari Ukraina yang di kenal sebagai lumbung Eropa juga terganggu. Krisis ini menyebabkan inflasi global dan meningkatnya ancaman kelaparan serta kemiskinan di berbagai belahan dunia. Lebih dari itu, jutaan orang terpaksa meninggalkan rumah mereka dan hidup sebagai pengungsi.

Kesimpulan: Biaya Perang yang Sangat Mahal

Perang ini telah mengorbankan ratusan ribu jiwa, baik dari kalangan militer maupun sipil, baik Ukraina maupun Rusia. Meski mungkin ada keuntungan geopolitik bagi satu pihak, perang selalu meninggalkan penderitaan yang jauh lebih besar bagi umat manusia. Lebih dari sekadar statistik, setiap angka mewakili kehidupan yang hilang, keluarga yang tercerai-berai, dan masa depan yang terenggut. Perang ini mengingatkan kita bahwa konflik bersenjata, meskipun mungkin membawa kemenangan strategis bagi satu pihak, selalu mengakibatkan kerugian yang lebih besar bagi umat manusia secara keseluruhan.

Sumber : Youtube

By ALEXA