Berita Dunia Terkini – Di jantung benua Afrika, ada sebuah negeri yang dahulu disebut Mutiara Afrika. Negeri itu dialiri oleh Sungai Nil, saksi bisu dari peradaban kuno yang pernah memberi cahaya bagi dunia. Namun, hari ini tanah itu terperangkap dalam siklus kehancuran yang tak berkesudahan. Negeri itu adalah Sudan.
Sudan berdiri di atas warisan sejarah yang megah dan keragaman etnis yang kaya. Tetapi di balik semua itu, tersimpan luka kolonial yang belum sembuh dan perebutan kekuasaan yang tak pernah berhenti. Konflik di sana bukan sekadar persoalan politik atau militer—ini adalah cerminan pergulatan sebuah bangsa dengan bayang-bayang masa lalunya sendiri.
Dari Peradaban Kuno ke Pusaran Perang Modern
Dulu, Sudan adalah rumah bagi Kerajaan Nubia dan Kush, peradaban Afrika yang pernah bersinar sejajar dengan Mesir kuno. Mereka membangun piramida, berdagang dengan dunia Mediterania, dan menjadi pusat pengetahuan di tepi Nil.
Namun kini, dari reruntuhan kota hingga padang pasir yang memerah oleh darah, setiap peluru yang ditembakkan bukan hanya merenggut nyawa—tetapi juga menghancurkan harapan akan masa depan yang damai. Sudan hidup dalam lingkaran kekerasan: kudeta, perang saudara, dan pengkhianatan politik yang berulang dari generasi ke generasi.
Akar Luka: Warisan Kolonial Inggris-Mesir
Untuk memahami mengapa konflik di Sudan tak kunjung berakhir, kita harus menelusuri akar sejarah kolonial yang membelah negeri ini jauh sebelum kemerdekaan.
Pada masa kolonial, Inggris dan Mesir memerintah Sudan dengan dua sistem yang sangat berbeda.
-
Sudan bagian utara di kelola dengan model Arab-Islam, menanamkan pendidikan berbasis bahasa Arab dan hukum syariah.
-
Sudan bagian selatan di pisahkan dan di bentuk dalam sistem Kolonial-Kristen, menggunakan bahasa Inggris dan misi gereja.
Kebijakan ini menciptakan dua dunia dalam satu negara — dua identitas yang nyaris tak saling mengenal. Setelah kemerdekaan pada tahun 1956, ketegangan etnis dan agama yang di tinggalkan oleh kolonialisme berubah menjadi bara konflik berkepanjangan.
Sudan Modern: Antara Kekuasaan dan Keputusasaan
Sejak kemerdekaannya, Sudan terus berjuang mencari bentuk negara yang stabil. Kudeta demi kudeta mengguncang pemerintahan, dari era Jenderal Jaafar Nimeiry, Omar al-Bashir, hingga pertikaian terbaru antara militer dan pasukan paramiliter RSF (Rapid Support Forces).
Pertempuran antarjenderal bukan hanya perebutan kekuasaan, tetapi juga pertarungan untuk menguasai sumber daya: emas, minyak, dan kendali geopolitik di Afrika Timur. Rakyat sipil terjebak di tengah, menghadapi kelaparan, pengungsian, dan kekerasan tanpa akhir.
Bayangan Perpecahan dan Harapan yang Rapuh
Kini, Sudan terbagi secara de facto antara kekuasaan militer dan kelompok bersenjata. Kota-kota seperti Khartoum dan Omdurman luluh lantak oleh pertempuran. Sementara di Darfur, luka lama genosida kembali terbuka.
Namun, di balik reruntuhan dan kehancuran, masih ada suara-suara harapan. Para aktivis muda, perempuan, dan kelompok masyarakat sipil berjuang agar Sudan tidak sepenuhnya tenggelam dalam kegelapan sejarahnya. Mereka menuntut keadilan, demokrasi, dan rekonsiliasi nasional.
Kesimpulan: Mutiara yang Harus Di Selamatkan
Sudan adalah cermin dari perjalanan tragis Afrika modern—antara kejayaan masa lalu dan bayang-bayang penjajahan. Negara ini menyimpan potensi besar, namun terus terjerat dalam konflik yang di ciptakan oleh sejarah dan keserakahan manusia.
Mutiara Afrika itu masih ada, hanya tertutup debu perang dan luka masa lalu. Pertanyaannya, berapa lama lagi dunia akan membiarkan Sudan tenggelam dalam darah dan diam?
Sumber : Youtube.com

