Strategi Amerika Serikat dalam Menghadapi Aliansi Rusia-Cina: Peluang dan TantanganStrategi Amerika Serikat dalam Menghadapi Aliansi Rusia-Cina: Peluang dan Tantangan

Berita Dunia Terkini – Salah satu mimpi buruk strategis bagi Amerika Serikat yang sering dibicarakan adalah kemungkinan terjadinya persatuan antara Rusia dan Cina. Ini bukan sekadar ketakutan atau khayalan, melainkan kekhawatiran yang telah disampaikan secara terbuka oleh para pemimpin politik Amerika Serikat, termasuk Donald Trump. Bahkan, Trump menilai kebijakan pemerintahan sebelumnya di bawah Joe Biden sangat ceroboh karena membiarkan kedua kekuatan otoriter ini semakin dekat. Trump menegaskan tekadnya untuk memisahkan mereka, sebuah ambisi yang kini menjadi salah satu pilar utama dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Mengapa Aliansi Rusia-Cina Menjadi Ancaman?

Cina bukan lagi sekadar pesaing ekonomi atau politik bagi Amerika Serikat, tetapi telah menjadi ancaman eksistensial yang mengguncang fondasi kekuatan global Amerika. Salah satu alasan utama mengapa Trump dan timnya semakin gelisah adalah kekuatan dolar Amerika Serikat yang mulai terkikis. Rusia dan Cina telah mempercepat proses yang disebut “dedolarisasi” dalam hubungan dagang mereka, yang mengarah pada penggunaan rubel dan renminbi alih-alih dolar Amerika. Data menunjukkan bahwa lebih dari 90% transaksi bilateral kedua negara kini menggunakan mata uang lokal mereka, meninggalkan dolar yang sebelumnya menjadi simbol keangkuhan Amerika Serikat.

Ekonomi Global: Cina vs Amerika Serikat

Reaksi keras dari Trump terhadap fenomena ini tidak hanya sekadar ancaman retorika. Fakta ekonomi yang ada menunjukkan bahwa Cina kini menjadi kekuatan ekonomi yang tak tertandingi. Berdasarkan data dari Dana Moneter Internasional, pada 2025, PDB Cina diperkirakan akan mencapai 19% dari total ekonomi global, jauh melampaui Amerika Serikat yang hanya menyumbang 15%. Selain itu, dengan populasi yang besar dan pertumbuhan tahunan sekitar 5%, Cina kini memimpin dalam berbagai teknologi kritis, termasuk kecerdasan buatan dan komputasi kuantum. Hal ini semakin memperburuk posisi Amerika Serikat, yang tergerus oleh dominasi Cina dalam sektor manufaktur dan paten.

Rusia dan Cina: Mitra Strategis yang Saling Melengkapi

Rusia mungkin berkontribusi sekitar 3,5% terhadap ekonomi global, namun negara ini memiliki cadangan minyak dan gas terbesar di dunia, serta kemampuan militer yang terbukti di Ukraina. Hubungan strategis Rusia dan Cina bukan sekadar aliansi biasa; keduanya saling melengkapi dalam aspek ekonomi dan geopolitik. Cina membutuhkan sumber daya alam Rusia, sementara Rusia bergantung pada pasar dan investasi Cina, terutama setelah sanksi barat pasca 2014 yang memaksa Rusia beralih ke Asia. Pada 2023, perdagangan bilateral mereka tercatat mencapai 240 miliar dolar, dan di perkirakan akan terus berkembang pada 2025.

Strategi Trump: Menciptakan Perpecahan antara Rusia dan Cina

Pada 2025, Trump meluncurkan strategi yang di sebut media Barat sebagai “jockey Nixon terbalik,” merujuk pada strategi Presiden Richard Nixon pada 1972 yang memanfaatkan perpecahan antara Soviet dan Cina untuk melemahkan Uni Soviet. Trump berusaha merayu Rusia untuk mengisolasi Cina, dengan harapan bisa memisahkan kedua negara besar ini. Upaya ini di dukung oleh beberapa tokoh penting di kabinet Trump, seperti Marco Rubio dan Mike Waltz. Rubio bahkan melakukan perjalanan ke Arab Saudi untuk membahas peluang bermitra dengan Rusia secara geopolitik dan ekonomi.

Kepercayaan Rusia terhadap Amerika Serikat: Tantangan Besar

Namun, strategi ini bukanlah hal yang baru. Selama masa jabatan pertama Trump. Upaya untuk mendekati Rusia terhambat oleh skandal yang muncul terkait dugaan campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden 2016. Skandal ini memperburuk hubungan antara Amerika Serikat dan Rusia, dan justru mendorong Rusia untuk mempererat hubungan dengan Cina. Kini, dengan tim yang lebih terorganisir, Trump tampaknya lebih bertekad untuk melanjutkan upaya tersebut. Namun, hubungan Rusia dan Cina bukanlah hubungan yang mudah di pisahkan.

Peluang Trump: Mengusulkan Kesepakatan Damai untuk Memecah Aliansi Rusia-Cina

Trump melihat potensi ketegangan dalam hubungan Rusia-Cina sebagai celah yang dapat di manfaatkan. Misalnya, Rusia yang berperan sebagai Mitra Junior dalam aliansi ini mungkin akan tertarik dengan tawaran kesepakatan damai yang menguntungkan. Seperti keringanan sanksi atau pengakuan atas pengaruh Rusia di kawasan tertentu, termasuk jaminan bahwa Ukraina tidak akan bergabung dengan NATO. Dari sudut pandang Rusia, Amerika Serikat bisa menawarkan keuntungan nyata dalam bentuk pengurangan sanksi dan jaminan keamanan, meskipun kepercayaan terhadap Amerika telah terguncang. Terutama setelah Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018.

Kesimpulan: Keputusan yang Penuh Risiko

Namun, skenario ini tidak tanpa risiko. Aliansi ini bukan hanya soal kepentingan ekonomi, tetapi juga tentang visi dunia yang serupa. Menentang hegemoni Amerika Serikat dan mendorong tatanan dunia multipolar. Meskipun ada ketegangan di balik hubungan ini, dengan Cina memiliki pengaruh ekonomi yang sangat besar atas Rusia. Strategi Trump untuk memisahkan keduanya bisa jadi berisiko besar. Alih-alih memisahkan mereka, kebijakan Trump justru bisa mempererat hubungan Rusia dan Cina. Mempercepat visi mereka untuk mengubah tatanan dunia yang ada.

Jika Trump berhasil memisahkan kedua negara, Amerika Serikat mungkin bisa menahan laju dominasi Cina untuk sementara waktu. Namun, jika gagal, dunia bisa menyaksikan aliansi Rusia-Cina yang semakin kuat, yang berpotensi mengubah dinamika kekuatan global dan menggoyahkan posisi dominan Amerika Serikat di kancah internasional.

Sumber : Youtube

By ALEXA