Berita Dunia Terkini – Rencana hibah kapal induk Giuseppe Garibaldi (C551) dari Italia kepada Republik Indonesia (RI) menarik perhatian publik dan pengamat militer. Langkah ini membuka peluang baru dalam kerja sama pertahanan kedua negara. Di sisi lain, kapal yang lama menjadi andalan Italia ini menawarkan nilai strategis untuk mendukung operasi maritim, misi kemanusiaan, serta penguatan diplomasi pertahanan Indonesia di kawasan.

Untuk memahami potensi tersebut, penting meninjau lebih dahulu latar belakang dan karakteristik utama kapal ini.


Profil Singkat Kapal Induk Garibaldi

Sebagai pengantar, Angkatan Laut Italia mengoperasikan kapal ini di bawah naungan Italian Navy sejak tahun 1985. Galangan kapal Fincantieri membangun Garibaldi sebagai kapal induk ringan (light aircraft carrier) pertama Italia pada era modern. Dengan demikian, kapal ini menandai tonggak penting dalam sejarah kekuatan laut Italia.

Lebih lanjut, Italia mengambil nama kapal ini dari tokoh nasional Giuseppe Garibaldi, pahlawan pemersatu Italia. Selama puluhan tahun, kapal ini menjalankan berbagai operasi NATO, misi perdamaian, dan bantuan kemanusiaan internasional. Pengalaman panjang tersebut memperkuat reputasinya sebagai kapal yang andal dalam berbagai situasi.

Setelah memahami latar belakangnya, pembahasan berikut mengulas aspek teknis yang menjadi kekuatan utama kapal ini.


Spesifikasi Teknis Kapal Induk Garibaldi

Secara teknis, Garibaldi memiliki spesifikasi yang cukup kompetitif di kelasnya. Berikut rincian utamanya:

1. Dimensi dan Bobot

Pertama, dari sisi ukuran dan kapasitas:

  • Panjang: ± 180 meter

  • Lebar: ± 33 meter

  • Draft: ± 8 meter

  • Bobot penuh (full load displacement): sekitar 13.800–14.000 ton

Ukuran tersebut menempatkan Garibaldi dalam kategori kapal induk ringan. Meski begitu, kapal ini tetap mampu membawa kombinasi pesawat tempur dan helikopter dalam jumlah signifikan. Oleh karena itu, dimensinya memberi keseimbangan antara mobilitas dan daya angkut.

2. Sistem Propulsi dan Kecepatan

Selanjutnya, dari sisi tenaga penggerak:

  • Mesin: 4 turbin gas

  • Tenaga: sekitar 81.000 shp

  • Kecepatan maksimum: ± 30 knot

  • Jangkauan operasional: sekitar 7.000 mil laut pada kecepatan jelajah

Empat turbin gas menghasilkan tenaga besar sehingga kapal dapat melaju cepat dan bermanuver lincah. Dengan kemampuan tersebut, Garibaldi mampu mendukung operasi tempur maupun patroli jarak jauh secara efektif.

Setelah membahas aspek teknis dasar, pembahasan beralih pada kemampuan udara dan sistem pertahanannya.


Kapasitas dan Sistem Persenjataan

1. Kapasitas Pesawat

Dalam hal kekuatan udara, Garibaldi mengoperasikan:

  • Hingga 12 pesawat tempur AV-8B Harrier dalam konfigurasi maksimal

  • Kombinasi pesawat tempur dan helikopter anti-kapal selam, SAR, serta transport

Dek penerbangan dilengkapi ski-jump (landasan melengkung) yang membantu pesawat lepas landas dalam jarak pendek dengan konsep STOVL. Dengan konfigurasi tersebut, kapal ini mampu menjalankan misi pengawasan, pertahanan, hingga dukungan tempur terbatas.

2. Sistem Pertahanan

Selain kekuatan udara, Garibaldi juga membawa sistem pertahanan mandiri, antara lain:

  • Rudal permukaan-ke-udara

  • Sistem CIWS (Close-In Weapon System)

  • Meriam pertahanan jarak dekat

  • Sistem radar dan peperangan elektronik

Kombinasi sistem ini memberi perlindungan terhadap ancaman udara dan rudal. Dengan demikian, kapal tetap memiliki kemampuan bertahan saat beroperasi di wilayah berisiko.

Setelah memahami kemampuan teknis dan militernya, penting menilai bagaimana kapal ini dapat berkontribusi bagi Indonesia.


Potensi Peran bagi Indonesia

Jika Italia merealisasikan hibah ini, TNI AL dapat memperkuat kemampuan proyeksi kekuatan laut dan udara. Lebih jauh lagi, kapal ini dapat mendukung berbagai skenario operasi nasional.

1. Kapal Komando dan Kendali

Pertama, dek luas dan fasilitas komunikasi modern memungkinkan Garibaldi berfungsi sebagai pusat komando dalam operasi gabungan. Dengan peran ini, TNI AL dapat mengoordinasikan armada secara lebih efektif dalam operasi besar.

2. Dukungan Operasi Kemanusiaan

Selain fungsi militer, Indonesia menghadapi risiko bencana alam yang tinggi. Dalam konteks tersebut, TNI AL dapat memanfaatkan kapal ini sebagai:

  • Rumah sakit terapung

  • Pusat distribusi logistik

  • Basis helikopter untuk evakuasi korban

Dengan kemampuan tersebut, kapal dapat mempercepat respons terhadap krisis kemanusiaan.

3. Penguatan Diplomasi Pertahanan

Di samping itu, kehadiran kapal induk ringan dapat meningkatkan posisi tawar Indonesia dalam kerja sama maritim regional dan latihan militer multinasional. Kapal ini juga dapat menjadi simbol kekuatan dan komitmen Indonesia terhadap stabilitas kawasan.

Namun demikian, setiap peluang tentu disertai tantangan.


Tantangan Operasional

Indonesia perlu mempertimbangkan sejumlah aspek sebelum mengoperasikan kapal ini. Pertama, usia kapal telah melampaui 40 tahun sehingga membutuhkan perhatian ekstra dalam pemeliharaan. Selain itu, biaya modernisasi dan dukungan logistik juga menuntut perencanaan anggaran yang matang.

Di samping faktor teknis, Indonesia juga perlu menyiapkan infrastruktur pelabuhan dan dukungan teknis dalam negeri. Tidak kalah penting, TNI AL harus memastikan ketersediaan pesawat tempur yang sesuai dengan sistem STOVL. Oleh karena itu, pemerintah dan TNI AL perlu menyusun kajian teknis, operasional, dan finansial secara menyeluruh.


Kesimpulan

Secara keseluruhan, kapal induk Giuseppe Garibaldi (C551) menawarkan pengalaman operasional panjang serta spesifikasi yang tetap relevan di kelas kapal induk ringan. Kecepatan tinggi, kapasitas pesawat tempur, dan kemampuan komando memberi peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat kekuatan maritimnya.

Pada akhirnya, keberhasilan pemanfaatan kapal ini bergantung pada strategi modernisasi yang tepat, dukungan anggaran memadai, serta integrasi ke dalam sistem pertahanan nasional. Jika semua faktor tersebut terpenuhi, Indonesia dapat memaksimalkan potensi kapal ini dan mempertegas perannya sebagai kekuatan maritim regional.

Sumber : CNN NEWS

By ALEXA