Berita Dunia Terkini – Seorang pria asal Bandung menarik perhatian publik setelah ia meretas sebuah perusahaan kripto yang berbasis di Inggris. Dalam aksinya, ia membobol sistem keamanan perusahaan tersebut dan mengambil aset digital senilai sekitar Rp6,6 miliar. Peristiwa ini membuat banyak pihak terkejut karena industri kripto biasanya menerapkan pengamanan berlapis.
Modus Operandi yang Terstruktur
Pihak berwenang menjelaskan bahwa pelaku menggunakan teknik phishing tingkat lanjut untuk mendapat akses ke jaringan internal perusahaan. Ia mengirim email palsu yang mengatasnamakan pemberitahuan pembaruan sistem, lalu menargetkan salah satu karyawan perusahaan tersebut. Setelah karyawan itu membuka tautan, pelaku langsung menjalankan malware yang ia rancang khusus untuk mencuri kredensial login.
Dengan kredensial tersebut, ia memasuki sistem perusahaan dan memindahkan sebagian aset kripto ke dompet-dompet anonim yang ia siapkan sebelumnya.
Investigasi Lintas Negara
Aparat keamanan Indonesia bekerja sama dengan otoritas Inggris untuk mengikuti jejak transaksi blockchain yang pelaku tinggalkan. Mereka menelusuri pola transaksi yang terlihat tidak wajar dan membandingkannya dengan aktivitas dompet kripto yang pelaku gunakan.
Pelaku juga menggunakan jaringan VPN dan beberapa server luar negeri untuk menyamarkan lokasinya, sehingga penyidik harus menganalisis lebih banyak data teknis selama proses investigasi.
Reaksi Perusahaan dan Dampaknya
Pihak perusahaan menyatakan bahwa insiden tersebut mengganggu sebagian sistem operasional mereka, meskipun aktivitas pengguna tetap berjalan. Mereka segera memperketat sistem keamanan dan menjalankan audit internal agar peretasan serupa tidak terulang.
Para ahli keamanan siber menilai bahwa kasus ini menunjukkan betapa cepatnya metode peretasan berkembang, bahkan mampu menembus sistem yang perusahaan teknologi klaim sebagai sistem berkeamanan tinggi.
Upaya Penangkapan dan Antisipasi Keamanan
Aparat Indonesia mengamankan laptop, ponsel, dan beberapa perangkat keras kripto milik pelaku. Mereka terus memeriksa semua barang bukti untuk memastikan apakah pelaku bekerja sendirian atau bersama jaringan yang lebih besar.
Di sisi lain, para pakar mengimbau perusahaan-perusahaan teknologi dan kripto agar memperbarui sistem keamanan secara rutin serta melatih karyawan untuk mengenali serangan rekayasa sosial seperti phishing.
Sumber : CNN NEWS
