Berita Dunia Terkini – Mongolia adalah tanah yang pernah menggemparkan dunia dengan kebrutalan dan kekejamannya. Wilayah luas ini, membentang dari Gurun Gobi hingga pegunungan tinggi, melahirkan bangsa yang menaklukkan dunia dengan kekuatan militer yang tak tertandingi. Setiap kota yang mereka kuasai seringkali hanya menyisakan abu dan reruntuhan.
Salah satu contoh paling mengerikan adalah kehancuran Napur pada tahun 1221, di mana pasukan Mongol membantai lebih dari 1,7 juta orang sebagai balas dendam atas terbunuhnya menantu Jenghis Khan. Mereka juga menghancurkan Bagdad pada tahun 1258, pusat keilmuan dan kebudayaan Islam saat itu. Kehancurannya begitu dahsyat hingga sejarawan menggambarkan Sungai Tigris mengalirkan darah.
Kekaisaran Terbesar dalam Sejarah Manusia
Di bawah kepemimpinan Jenghis Khan dan penerusnya, Kekaisaran Mongol menjadi kekaisaran darat terbesar yang pernah ada. Wilayahnya membentang dari Samudra Pasifik di timur hingga Eropa Timur di barat, dan dari Siberia di utara hingga Persia dan India di selatan.
Pada puncak kejayaannya sekitar tahun 1279, kekaisaran ini mencakup 33 juta km² (22% daratan dunia)—sebuah rekor yang belum pernah terpecahkan hingga kini. Mereka menguasai berbagai iklim dan geografi, mulai dari stepa Asia Tengah, Gurun Gobi, Pegunungan Himalaya, hingga hutan Siberia.
Warisan Perdagangan dan Pertukaran Budaya
Meski dikenal sebagai bangsa penakluk, Mongol juga membuka jalur perdagangan terbesar antara Timur dan Barat. Rute seperti Jalur Sutra mencapai masa keemasannya di bawah kekuasaan mereka. Barang seperti sutra, rempah-rempah, emas, dan kertas diperdagangkan dengan bebas.
Mereka juga memfasilitasi pertukaran teknologi dan ilmu pengetahuan:
- Kompas dan teknik percetakan dari Cina menyebar ke Eropa.
- Matematika, astronomi, dan kedokteran dari dunia Islam dibawa ke seluruh wilayah Mongol.
Meski akhirnya kekaisaran ini melemah dan terpecah, warisan Mongol tetap hidup hingga kini. Mereka membuktikan bahwa dari padang rumput yang tandus, sebuah bangsa bisa bangkit dan mengubah dunia.
Geografi Ekstrem dan Iklim yang Menantang
Mongolia adalah salah satu negara terbesar di dunia dengan luas 1,56 juta km², namun tanpa akses ke laut. Wilayahnya didominasi oleh stepa, pegunungan, dan Gurun Gobi.
Iklimnya termasuk yang paling ekstrem di dunia:
- Musim panas: Suhu bisa mencapai 40°C.
- Musim dingin: Suhu turun drastis hingga -40°C.
Kondisi ini membentuk masyarakat yang tangguh, mampu bertahan di tengah kerasnya alam.
Kuda: Jiwa Bangsa Mongol
Mongolia memiliki rasio kuda terbesar di dunia—lebih dari 3 juta kuda untuk populasi 3,3 juta orang. Bagi bangsa Mongol, kuda bukan sekadar hewan, melainkan mitra hidup yang mendukung ekonomi, budaya, dan perang.
- Anak-anak Mongol belajar menunggang kuda sejak usia dini.
- Kuda Mongol kecil tapi kuat, mampu menempuh 100 km per hari dengan hanya memakan rumput.
Keahlian berkuda ini menjadi senjata utama dalam penaklukan mereka. Dalam Pertempuran Kalka (1223), pasukan Mongol mengalahkan musuh yang jauh lebih besar berkat mobilitas dan taktik berkuda mereka.
Tradisi yang Bertahan Hingga Kini
Lebih dari 25-30% penduduk Mongolia masih hidup secara nomaden, berpindah mengikuti musim. Mereka tinggal di ger (tenda tradisional) dan mempertahankan budaya berkuda.
- Festival Naadam, acara tahunan terbesar, menampilkan olahraga tradisional seperti pacuan kuda dan memanah.
- Airag (susu kuda fermentasi) adalah minuman simbol kekayaan dan kemakmuran.
Meski modernisasi terus berkembang, kuda tetap menjadi simbol identitas bangsa Mongol.
Bangsa Terbesar Tanpa Tanah Air
Dengan populasi lebih dari 30 juta jiwa, bangsa Kurdi adalah kelompok etnis terbesar tanpa negara. Mereka tersebar di:
- Turki (Kurdistan Utara): ~16 juta
- Irak (Kurdistan Selatan): ~6 juta
- Iran (Kurdistan Timur): ~8 juta
- Suriah & Armenia (Kurdistan Barat): ~5 juta
Meski mendiami wilayah yang mereka sebut “Kurdistan”, tanah ini tidak diakui secara internasional.
Sejarah Perjuangan dan Pemberontakan
- 1880: Pemberontakan Syekh Ubaidillah, upaya pertama meraih kemerdekaan.
- 1919: Syekh Mahmud memproklamasikan kemerdekaan Sulaimaniyah (Irak), tetapi di tumpas Inggris.
- 1920: Perjanjian Sèvres menjanjikan otonomi Kurdi, tetapi di batalkan oleh Turki.
- 1945: Republik Mahabad (Iran) didirikan, namun hanya bertahan satu tahun sebelum dihancurkan.
Mimpi yang Belum Terwujud
Hingga kini, bangsa Kurdi terus berjuang untuk otonomi atau kemerdekaan, tetapi selalu di halangi oleh negara-negara tempat mereka tinggal. Turki, Iran, Irak, dan Suriah menolak pembentukan negara Kurdi karena khawatir akan destabilisasi wilayah.
Meski demikian, semangat mereka tetap menyala—sebuah perjuangan panjang yang belum berakhir.
Sumber : Youtube