Berita Dunia Terkini – Venezuela berada dalam posisi yang unik sekaligus tragis di peta dunia. Meski bukan pusat perang besar atau produsen utama narkoba, negara ini menerima tekanan internasional yang jauh lebih ekstrem di bandingkan negara lain dengan catatan konflik yang lebih berat.
Seorang presiden di cap kriminal, sanksi ekonomi dijatuhkan tanpa jeda, dan aset negara disita. Apa yang sebenarnya membuat Venezuela diperlakukan berbeda? Mari kita bedah melalui lensa geopolitik, energi, dan peta kepentingan global.
Venezuela Mitos Narkoba: Jalur Transit vs. Produsen Utama
Banyak narasi resmi menyebutkan bahwa Venezuela adalah pusat narkoba dunia. Namun, data dari World Drug Report PBB menunjukkan fakta berbeda. Lebih dari 90% produksi kokain dunia terkonsentrasi di kawasan Andes: Kolombia, Peru, dan Bolivia.
Venezuela memang merupakan jalur transit karena posisi geografisnya di tepi Karibia. Namun, banyak negara lain juga menjadi jalur transit tanpa menerima sanksi seberat Venezuela.
Perbandingannya sangat kontras:
-
Kolombia: Produsen kokain terbesar (60-65% global), namun AS meresponsnya dengan bantuan militer senilai miliaran dolar (Plan Colombia).
-
Meksiko: Jalur utama dengan kekerasan kartel yang masif, namun pendekatannya tetap koordinasi keamanan.
Ini memberi sinyal kuat bahwa tuduhan narkoba hanyalah “pintu masuk” atau bahasa publik untuk melegitimasi tekanan yang sudah di rencanakan sebelumnya.
Paradoks Energi: Cadangan Minyak Terbesar di Dunia
Di balik isu hukum, ada satu faktor yang tidak bisa di abaikan: Energi. Venezuela menyimpan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, mencapai 303 miliar barel.
Menariknya, mayoritas minyak Venezuela adalah jenis heavy oil (minyak berat). Kilang-kilang minyak di pesisir Teluk Amerika Serikat telah di rancang selama puluhan tahun khusus untuk mengolah jenis minyak ini.
| Faktor | Dampak bagi Global |
| Cadangan | Terbesar di dunia, melampaui Arab Saudi. |
| Infrastruktur | Kilang AS bergantung pada campuran minyak berat Venezuela. |
| Kontrol | Nasionalisasi sumber daya membuat AS kehilangan kontrol langsung. |
Sanksi terhadap sektor minyak bukan sekadar hukuman, melainkan alat tawar. Tujuannya adalah untuk mempengaruhi siapa yang menguasai, mengolah, dan menikmati nilai dari aliran energi raksasa tersebut.
Strategi Perubahan Status: Dari Presiden Venezuela ke Target Hukum
Secara historis, menjatuhkan pemimpin negara dilakukan melalui operasi intelijen (Iran 1953) atau invasi militer (Irak 2003). Namun, kasus Venezuela menggunakan metode baru: Delegitimasi bertahap.
-
Pemecahan Legitimasi (2019): AS dan sekutunya mengakui Juan Guaidó sebagai pemimpin interim, membuat posisi Nicolás Maduro dianggap tidak sah di mata internasional.
-
Kriminalisasi (2020): Status Maduro digeser dari figur politik menjadi target hukum atas dakwaan “narkoterorisme”.
-
Label Negara Gagal: Sanksi ekonomi menghantam kemampuan negara untuk berfungsi, sehingga intervensi dianggap wajar demi alasan kemanusiaan.
Pesan untuk Dunia: Batas Baru Kedaulatan
Tindakan ekstrem terhadap Venezuela, termasuk pengejaran hukum terhadap pemimpinnya yang masih menjabat, merupakan sebuah preseden (contoh nyata).
Pesan yang dikirimkan kepada dunia sangat jelas: Perlindungan jabatan bisa runtuh jika arah politik di anggap menyimpang terlalu jauh dari orbit kekuatan dominan. Faktor Cina juga berperan besar di sini. Dukungan finansial dari Cina selama ini menjadi napas buatan bagi Venezuela. Dengan menekan Venezuela, kekuatan barat sebenarnya juga sedang menguji sejauh mana mereka bisa memutus pengaruh kompetitor global di wilayah tersebut.
Kesimpulan: Siapa Berikutnya?
Apa yang terjadi pada Venezuela bukan sekadar soal hukum atau narkoba. Ini adalah pergeseran aturan main internasional. Yang berubah bukan hanya nasib satu negara, tetapi batas aman kekuasaan itu sendiri.
Jika hari ini hukum internasional bisa di bawa melintasi batas negara untuk melucuti kedaulatan sebuah negara kaya minyak, maka pertanyaannya tinggal satu: Negara mana yang akan menjadi target berikutnya?
Sumber : Youtube.com

