Makoko: Venice of Africa yang Penuh KontradiksiMakoko: Venice of Africa yang Penuh Kontradiksi

Berita Dunia Terkini – Makoko, sebuah pemukiman nelayan yang terletak di kawasan Lagos, Nigeria, sering dijuluki sebagai “Venice of Africa.” Namun, meskipun sama-sama berbasis di dekat air, tidak ada yang romantis atau indah dari pemandangan yang tersaji di Makoko. Kawasan ini justru menawarkan pemandangan kumuh dan lingkungan yang sangat memprihatinkan. Meskipun air adalah elemen utama yang menghubungkan Makoko dengan Venice, perbedaan mencolok antara kedua tempat ini sangat jelas.

Pemandangan Kumuh di Tepi Laut

Berbeda dengan keindahan yang ditawarkan oleh kota Venice, menyuguhkan pemandangan yang jauh dari kata indah. Pemukiman ini terletak di tepi Samudra Atlantik, namun air di sekitar kawasan ini terlihat menghitam dan berminyak, menghasilkan bau yang menyengat. Limbah dapur berserakan di sekitar gubuk-gubuk warga yang terapung di atas air, menggambarkan betapa buruknya kondisi lingkungan di sana. Sebagian besar rumah-rumah di Makoko dibangun di atas kayu yang ditancapkan ke dasar laut, menciptakan suasana yang sangat berbeda dengan kota-kota pesisir lainnya yang lebih berkembang.

Sejarah Makoko dan Kehidupan Warganya

Makoko dibentuk pada abad ke-18 sebagai desa nelayan kecil yang berkembang pesat hingga menjadi pemukiman besar. Saat ini, Makoko menjadi rumah bagi sekitar 150.000 hingga 250.000 orang, meski tidak ada catatan resmi tentang jumlah pasti penduduknya. Kebanyakan penduduknya adalah pekerja migran yang datang dari berbagai negara di Afrika Barat, mencari nafkah melalui sektor penangkapan ikan.

Kehidupan disini sangat bergantung pada air. Hampir seluruh bangunan di kawasan ini berdiri di atas rumah panggung yang dibangun dari kayu. Setiap rumah dihuni oleh 6 hingga 10 orang, dan masing-masing dilengkapi dengan perahu kayu yang digunakan sebagai sarana transportasi. Perahu-perahu ini bukan hanya berfungsi untuk berkeliling pemukiman, tetapi juga di gunakan untuk memancing dan berjualan. Anak-anak di Makoko mulai belajar mendayung perahu sejak usia 5 tahun, karena keterampilan ini sangat penting untuk bertahan hidup di kawasan yang serba terbatas ini.

Kekurangan Infrastruktur Dasar dan Dampaknya

Salah satu tantangan terbesar yang di hadapi oleh warga Makoko adalah kurangnya akses terhadap infrastruktur dasar. Pemukiman ini tidak memiliki fasilitas seperti air bersih, listrik, atau sistem pembuangan limbah yang memadai. Jamban komunal yang di gunakan bersama-sama membuat kondisi sanitasi semakin buruk. Air limbah mengalir langsung ke perairan sekitar, menjadikan air di kawasan ini sangat tercemar dan tidak layak untuk kehidupan.

Satu-satunya cara untuk mendapatkan air minum yang bersih adalah dengan membeli dari vendor yang mendapatkan pasokan dari lubang bor. Namun, pemerintah setempat sengaja tidak memberikan air gratis kepada warga Makoko, mengingat kawasan ini di anggap sebagai pemukiman ilegal yang tidak di inginkan. Makoko, dengan segala keterbatasannya, menjadi simbol ketidakpedulian pemerintah terhadap nasib warganya.

Sekolah Terapung: Solusi bagi Pendidikan

Salah satu upaya untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak Makoko adalah dengan membangun sekolah terapung. Sekolah ini di bangun dari 256 drum plastik dan kayu lokal, dengan desain bertingkat tiga yang mampu mengapung di atas air. Sekolah terapung ini dapat menampung sekitar 100 siswa dan di lengkapi dengan panel surya untuk kebutuhan listrik. Tujuan utama pembangunan sekolah ini adalah untuk memberikan kesempatan pendidikan kepada anak-anak yang terhalang oleh kemiskinan dan keterbatasan geografis.

Namun, meski sekolah terapung ini menjadi daya tarik bagi wisatawan, warga Makoko tidak selalu menyambut mereka dengan ramah. Mereka seringkali menganggap para wisatawan sebagai mata-mata pemerintah yang ingin menggusur mereka dari kawasan tersebut. Warga juga cenderung skeptis terhadap fotografer, karena mereka khawatir bahwa foto-foto mereka akan di jual untuk keuntungan pihak luar.

Kondisi Sosial dan Ekonomi Makoko

Kehidupan sosial di Makoko berputar sekitar kegiatan nelayan. Para pria berpetualang jauh ke luar laguna untuk menangkap ikan, yang kemudian di jual oleh wanita atau di olah menjadi ikan asap. Pekerjaan mengasap ikan sangat umum di Makoko, dengan gubuk-gubuk khusus yang di gunakan untuk mengasapi ikan, yang kemudian di jual di pasar lokal. Banyak wanita di Makoko juga menjalankan bisnis kecil, seperti menjual makanan matang dengan menggunakan kano sebagai alat transportasi.

Namun, meskipun warga berusaha untuk hidup mandiri, mereka menghadapi banyak tantangan. Banyak anak-anak dan orang dewasa di Makoko tidak memiliki akta kelahiran, yang membuat mereka rentan terhadap ketidakpastian hukum dan sosial. Selain itu, pembuangan limbah menjadi masalah besar, dengan banyak sampah plastik mencemari perairan sekitar. Kurangnya rencana pengelolaan sampah semakin memperburuk kondisi lingkungan.

Kesimpulan: Antara Harapan dan Realitas

Makoko mungkin di kenal sebagai “Venice of Africa,” namun kenyataannya jauh dari indah dan romantis. Meskipun warga telah beradaptasi dengan kehidupan di atas air, tantangan besar tetap mengancam mereka. Kurangnya infrastruktur dasar, sanitasi yang buruk, dan masalah lingkungan masih menjadi masalah utama yang harus di hadapi. Sementara itu, upaya pemerintah untuk menggusur pemukiman ini menambah kesulitan bagi warga yang merasa bahwa Makoko adalah bagian dari identitas dan budaya mereka yang harus di lestarikan.

Makoko adalah cerminan dari ketimpangan sosial dan kegagalan pemerintah dalam mengelola pertumbuhan kota besar seperti Lagos. Dengan segala keterbatasannya, Makoko tetap menjadi rumah bagi ratusan ribu orang yang berjuang untuk hidup dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit.

Sumber : Youtube

By ALEXA