Berita Dunia Terkini – Perang di Yaman berlangsung sejak 2014 ketika kelompok Houthi yang mendapat dukungan Iran merebut ibu kota Sanaa dan menggulingkan pemerintahan yang diakui internasional. Setelah itu, Arab Saudi membentuk koalisi militer untuk membantu pemerintah Yaman melawan Houthi dan menjaga pengaruh geopolitik di kawasan. Konflik ini melibatkan banyak aktor lokal dan regional. Kelompok separatis di wilayah selatan yang memperoleh sokongan dari Uni Emirat Arab (UEA) turut memperumit situasi dan memperluas perang proksi di Yaman.


Perpecahan Dalam Koalisi: Saudi vs UEA

Selama beberapa tahun, Arab Saudi dan UEA tampil sebagai sekutu utama melawan Houthi. Namun, hubungan keduanya semakin retak. Penyebab utamanya berkaitan dengan dukungan terhadap faksi yang berbeda di wilayah selatan Yaman. UEA secara terbuka mendukung Southern Transitional Council (STC) yang ingin memulihkan kemerdekaan Yaman Selatan. Sebaliknya, Arab Saudi mendorong penguatan pemerintahan Yaman yang diakui internasional untuk menjaga kesatuan negara. Pertentangan kepentingan ini memicu ketegangan dan mendorong kedua negara saling bersaing di medan konflik.


Saudi Cs Melancarkan Serangan Terhadap Proksi UEA

Pada awal Januari 2026, koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan udara dan operasi militer terhadap pasukan STC di wilayah selatan Yaman, terutama di provinsi al-Dhale’a dan sekitar Aden. Arab Saudi menilai pemimpin STC, Aidarous al-Zubaidi, menolak dialog di Riyadh dan memilih memperkuat kekuatan bersenjata. Riyadh menuduh Zubaidi memobilisasi pasukan untuk menekan pemerintah Yaman dan mengancam stabilitas kawasan. Setelah itu, Saudi menggencarkan serangan terhadap wilayah yang berada dalam pengaruh STC.

Serangan tersebut menunjukkan keretakan hubungan Riyadh dan Abu Dhabi di Yaman. Dua sekutu lama kini berhadapan melalui kelompok yang masing-masing dukung.


Dampak Politik dan Militer yang Lebih Besar

Langkah militer Arab Saudi memicu perubahan politik dalam struktur pemerintahan Yaman. Dewan Kepemimpinan Presidensial (PLC) mencopot Aidarous al-Zubaidi dari jabatannya dan menuduhnya melakukan pengkhianatan. Keputusan ini meningkatkan ketegangan antar faksi anti-Houthi dan melemahkan koordinasi mereka. Houthi kemudian memperoleh peluang untuk memperkuat posisi karena lawan-lawannya saling berselisih.

UEA menanggapi perkembangan tersebut dengan menarik sebagian pasukan dari Yaman dan menyampaikan penolakan atas tuduhan pengiriman senjata kepada kelompok separatis. Abu Dhabi mendorong dialog dan menekankan pentingnya penyelesaian politik untuk menghentikan eskalasi.


Ancaman Krisis Kemanusiaan yang Kembali Meningkat

Eskalasi militer di wilayah selatan Yaman kembali memperburuk situasi kemanusiaan. Pertempuran membuat warga sipil terjebak di area konflik. Lembaga bantuan melaporkan kekurangan kebutuhan dasar dan gangguan distribusi logistik. Sejumlah negara asing mengevakuasi warganya dari wilayah rawan seperti pulau Socotra karena meningkatnya risiko keamanan.


Penutup

Eskalasi konflik Yaman menunjukkan perubahan perang dari perseteruan internal menuju persaingan kekuatan regional. Arab Saudi dan UEA tidak hanya memperebutkan pengaruh teritorial, tetapi juga posisi strategis di Timur Tengah. Jika ketegangan terus meningkat, konflik Yaman berpotensi berlangsung lebih lama dan mengganggu stabilitas regional secara lebih luas.

Sumber : CNN NEWS

By ALEXA