Berita Dunia Terkini – Pada Desember 2025, kancah politik Eropa menyaksikan sebuah peristiwa langka dan bersejarah. Kabinet Bulgaria yang dipimpin Perdana Menteri Rosen Zhelyazkov resmi runtuh setelah menghadapi tekanan publik masif. Namun, yang menjadikan peristiwa ini luar biasa adalah aktor utama di balik kejatuhan pemerintahan tersebut.
Bukan partai oposisi, bukan pula militer, melainkan gelombang protes sipil yang dimotori oleh generasi muda—khususnya Gen Z. Fenomena ini kemudian dikenal luas sebagai “Kudeta Gen Z”, sebuah istilah yang mencerminkan kecepatan, skala, dan efektivitas mobilisasi politik berbasis digital.
Latar Belakang Pemerintahan Rosen Zhelyazkov
Rosen Zhelyazkov berasal dari partai konservatif GERB dan baru menjabat sebagai Perdana Menteri Bulgaria pada Januari 2025. Pemerintahannya lahir dari kompromi politik yang rapuh setelah serangkaian pemilu menghasilkan parlemen yang terfragmentasi.
Sejak awal, kabinet Zhelyazkov menghadapi:
-
Ketidakstabilan politik
-
Krisis kepercayaan publik
-
Tekanan kuat terkait korupsi sistemik
Bulgaria secara konsisten menempati peringkat terendah Indeks Persepsi Korupsi Uni Eropa, menciptakan jurang besar antara rakyat dan elit politik.
Pemicu Utama: Rancangan Anggaran 2026
Api protes menyala ketika pemerintah mengajukan Rancangan Anggaran Negara 2026. Kaum muda dan kelompok sipil menilai anggaran tersebut:
-
Sarat kepentingan oligarki politik
-
Menguatkan kekuasaan elite lama
-
Mengkhianati janji reformasi antikorupsi
Bagi Gen Z Bulgaria, rancangan ini menjadi “penghinaan terakhir” setelah bertahun-tahun janji reformasi yang tak kunjung terwujud. Para demonstran menyebutnya sebagai pembajakan demokrasi oleh segelintir elit.
Peran Sentral Gen Z dan Aktivisme Digital
Keberhasilan gerakan ini terletak pada penguasaan arsitektur digital modern oleh Gen Z. Mereka tidak mengandalkan:
-
Media arus utama
-
Partai politik
-
Tokoh sentral
Sebaliknya, mereka menggunakan:
-
TikTok untuk penyebaran pesan, jadwal aksi, dan meme politik
-
Telegram, Discord, dan Signal untuk koordinasi terenkripsi
-
Influencer lokal sebagai penggerak opini publik
Konten viral berupa video singkat, satire, dan meme tajam berhasil menembus kontrol informasi elit dan menjangkau puluhan ribu orang dalam waktu singkat.
Protes Massal dan Lumpuhnya Pemerintahan
Puluhan ribu demonstran—didominasi mahasiswa dan profesional muda—membanjiri jalanan Sofia dan kota-kota besar lainnya. Aksi berlangsung gigih dan berkelanjutan.
Ketika aparat menggunakan gas air mata, para demonstran:
-
Merekam secara langsung
-
Menyebarkannya real-time di media sosial
-
Mengubah represi menjadi katalis dukungan publik
Tekanan jalanan yang konsisten, di tambah penolakan parlemen mengesahkan anggaran, membuat kabinet lumpuh total.
Pengunduran Diri dan Runtuhnya Kabinet
Pada pertengahan Desember 2025, Rosen Zhelyazkov secara resmi mengumumkan pengunduran diri. Tidak lama berselang, seluruh kabinet yang bahkan belum genap setahun pun runtuh.
Peristiwa ini dicatat sebagai:
-
Kemenangan politik pertama Gen Z di Eropa
-
Kejatuhan pemerintahan akibat mobilisasi digital sipil
-
Titik balik aktivisme politik abad ke-21
Dampak Global dan Warisan Politik
Fenomena Bulgaria 2025 melampaui batas nasional. Dunia menyaksikan bahwa:
-
Media sosial telah berevolusi menjadi senjata politik transformatif
-
Aktivisme digital mampu membongkar struktur kekuasaan lama
-
Kedaulatan politik mulai bergeser ke ruang digital
Seperti yang sebelumnya terjadi di Nepal, Bulgaria membuktikan bahwa feed media sosial kini dapat mendikte agenda nasional.
Tantangan Selanjutnya bagi Gen Z Bulgaria
Meski kabinet tumbang, perjuangan belum usai. Tantangan terbesar adalah:
-
Memastikan pemilu berikutnya menghasilkan perubahan sistemik
-
Bukan sekadar pergantian wajah politisi lama
Namun satu hal telah terbukti:
Gen Z Bulgaria berhasil merebut kembali narasi politik negaranya dan menunjukkan bahwa kekuasaan sejati berada di tangan rakyat yang terorganisir, sadar, dan terhubung secara digital.
Kesimpulan
Peristiwa Kudeta Gen Z Bulgaria 2025 menjadi studi kasus terdepan dalam sejarah aktivisme modern. Generasi muda membuktikan bahwa di era digital, perubahan politik dapat terjadi lebih cepat, lebih luas, dan lebih efektif daripada sebelumnya.
Media sosial bukan lagi sekadar alat komunikasi melainkan kekuatan politik global.
Sumber : Youtube.com

