Keunikan Kota Rahat: Simbol Keragaman di Tengah Masyarakat IsraelKeunikan Kota Rahat: Simbol Keragaman di Tengah Masyarakat Israel

Berita Dunia Terkini – Israel, negara yang terletak di ujung timur laut Laut Mediterania, di kenal juga sebagai wilayah Palestina. Meskipun status politik Israel belum di akui sepenuhnya oleh beberapa negara, negara ini tetap menjadi satu-satunya negara dengan mayoritas penduduk Yahudi di dunia. Namun, meskipun di sebut sebagai negara Yahudi, komposisi penduduk Israel sangat beragam. Berdasarkan data pemerintah sipil pada 2022, sekitar 73,6% dari populasi Israel adalah orang Yahudi. Sementara 21,1% adalah orang Arab, dan 5,3% berasal dari kelompok lainnya, termasuk Kristen non-Arab dan mereka yang tidak menganut agama apapun.

Keberagaman Agama di Israel

Di Israel, agama Yahudi mendominasi, dengan sekitar 73,6% penduduknya menganut Yudaisme. Selain agama Yahudi, terdapat pula agama-agama Abrahamik lain yang di anut oleh sebagian penduduk Israel. Islam adalah agama kedua terbesar, dengan 18,1% penganutnya, diikuti oleh Kristen sebanyak 1,9%, dan Druze 1,6%. Keberagaman agama ini sangat tercermin dalam kota Rahat, yang terletak di wilayah gurun Negev di bagian selatan Israel.

Kota Rahat: Kota Muslim Terbesar di Israel

Rahat adalah kota yang memiliki mayoritas penduduk Muslim dan dikenal sebagai kota Muslim terbesar di Israel. Kota ini terletak sekitar 12 km sebelah utara kota Beersheba, di wilayah gurun Negev. Pada ketinggian sekitar 200 meter di atas permukaan laut. Dengan luas wilayah sekitar 32 km², Rahat memiliki pemandangan khas gurun. Dengan padang pasir luas dan lahan kering yang jarang ditumbuhi vegetasi. Iklim di Rahat tergolong semi-gurun, dengan musim panas yang sangat panas dan musim dingin yang cenderung sejuk.

Sebagai wilayah yang terletak di gurun, tanah di Rahat kurang subur untuk pertanian. Sebagian besar penduduknya tidak bergantung pada sektor pertanian seperti di daerah lain di Israel. Dalam kondisi iklim yang kering, masalah sumber daya air menjadi isu penting, namun sebagian besar pasokan air kota ini berasal dari sistem distribusi air nasional Israel yang mengalirkan air dari wilayah utara dan pantai ke selatan.

Sejarah Pembentukan Rahat: Pemukiman Badui di Gurun Negev

Rahat di dirikan pada tahun 1972 sebagai bagian dari kebijakan pemerintah Israel untuk menetap permanen komunitas Badui yang sebelumnya hidup secara nomaden di gurun Negev. Sebelum menjadi kota, wilayah ini adalah padang pasir yang di kuasai oleh suku Al-Tayaha, salah satu klan Badui. Pada tahun 1972, pemerintah Israel mulai membangun kota-kota untuk komunitas Badui, dan Rahat menjadi pemukiman Badui pertama yang di rancang dengan infrastruktur dasar seperti rumah permanen, jalan, listrik, dan air bersih.

Pada awalnya, banyak anggota suku Badui dari berbagai klan di Negev di pindahkan ke Rahat, baik secara sukarela maupun melalui kebijakan relokasi. Meski pada awalnya tantangan sosial muncul karena perbedaan tradisi dan struktur sosial antar klan, Rahat akhirnya berkembang menjadi pusat utama komunitas Badui di Israel. Pada tahun 1994, Rahat memperoleh status kota dan menjadi satu-satunya kota Badui dengan administrasi resmi.

Pertumbuhan Populasi dan Keunikan Sosial Rahat

Saat ini, Rahat merupakan salah satu kota dengan pertumbuhan populasi tercepat di Israel. Sebagian besar penduduknya berasal dari berbagai klan Badui yang sebelumnya hidup secara nomaden di gurun Negev, seperti klan Al-Tarabin, Al-Tayaha, Al-Azazma, dan lain-lain. Berdasarkan data 2022, Rahat di perkirakan memiliki populasi sekitar 79.064 jiwa, menjadikannya kota Badui terbesar di Israel. Lebih dari 90% penduduk Rahat beragama Islam, dengan sebagian kecil beragama Yahudi dan Kristen.

Meskipun Rahat berada di bawah hukum negara Israel yang berbasis pada sistem hukum sekuler. Kehidupan keagamaan tetap menjadi bagian integral dari masyarakat. Perayaan Islam seperti Idul Fitri dan Idul Adha di rayakan secara meriah oleh seluruh penduduk, dan pendidikan agama Islam juga menjadi bagian penting dalam kurikulum sekolah-sekolah di Rahat.

Infrastruktur dan Fasilitas Kota Rahat

Rahat memiliki 33 lingkungan, masing-masing dengan fasilitas publik dan komersial seperti pasar, taman, pusat pekerjaan wanita, dan area bermain anak-anak. Pada tahun 2007, stasiun kereta api Lehavim-Rahat di buka, memudahkan penduduk setempat untuk bekerja dan belajar di Beersheba dan wilayah lain di Israel. Kota ini juga di kenal sebagai pusat wisata kuliner, terutama saat bulan Ramadan. Dimana wisatawan dapat menikmati makanan tradisional Badui yang di masak langsung di rumah-rumah penduduk.

Kehidupan Bersama antara Muslim dan Yahudi

Keunikan Rahat terletak pada kemampuannya untuk menunjukkan bagaimana komunitas Muslim dan Yahudi dapat hidup berdampingan secara harmonis. Meskipun Rahat mayoritas di huni oleh Muslim, kota ini juga memiliki hubungan yang erat dengan komunitas Yahudi di sekitar wilayah tersebut. Kehidupan sosial dan budaya di Rahat mencakup banyak aspek bersama. Seperti bisnis, acara sosial, dan pernikahan yang sering kali melibatkan kedua komunitas.

Penemuan Arkeologi dan Sejarah Islam di Rahat

Pada tahun 2019, tim arkeolog dari Otoritas Antikuitas Israel mengumumkan penemuan salah satu masjid tertua di dunia yang terletak di Rahat. Masjid ini di perkirakan berusia sekitar 1.200 tahun dan berasal dari abad ke-7, saat Islam baru mulai menyebar di wilayah tersebut. Selain masjid, para arkeolog juga menemukan rumah pertanian era Bizantium. Yang menunjukkan bahwa Islam dan Kristen telah hidup berdampingan di wilayah ini sejak lama.

Kesimpulan: Rahat Sebagai Simbol Keragaman di Israel

Rahat, dengan segala keberagaman sosial dan budaya yang di milikinya, menjadi simbol dari integrasi antara tradisi dan modernitas, serta toleransi antara komunitas Muslim dan Yahudi. Kota ini tidak hanya menjadi tempat tinggal bagi komunitas Badui. Tetapi juga pusat diskusi mengenai masa depan komunitas ini dalam landscape sosial dan politik Israel yang terus berkembang. Keunikan Rahat dalam mempertahankan identitas budaya Badui sambil beradaptasi dengan kehidupan modern menjadikannya contoh menarik dalam konteks keragaman di Israel.

Sumber : Youtube

By ALEXA