Berita Dunia Terkini – Dewan Keamanan PBB beberapa waktu lalu menyetujui resolusi yang menyerukan pengerahan pasukan internasional ke Jalur Gaza. Resolusi ini muncul sebagai bagian dari rencana perdamaian yang bertujuan menstabilkan keamanan dan menciptakan transisi politik yang lebih teratur di wilayah tersebut. Pasukan internasional itu, yang disebut International Stabilization Force (ISF), membawa mandat untuk menjaga ketertiban, melatih aparat keamanan lokal, dan menetralisir kelompok bersenjata tertentu.
Alasan Hamas Menolak Rencana PBB
Hamas menolak resolusi tersebut dengan beberapa pertimbangan utama:
-
Kedaulatan Palestina
Hamas menegaskan bahwa kehadiran ISF menghapus kendali rakyat Palestina atas wilayah mereka sendiri. Mereka menilai pasukan internasional akan merusak hak rakyat Palestina untuk menentukan arah perjuangan dan masa depan politik mereka. -
Keraguan atas Netralitas Pasukan
Hamas menganggap mandat ISF bersifat politis. Mereka menilai pasukan itu akan memihak salah satu sisi konflik, terutama karena mandatnya mencakup pelucutan senjata kelompok perlawanan yang menurut Hamas mewakili suara rakyat Gaza. -
Proses Perencanaan yang Mengesampingkan Hamas
Hamas menolak rencana tersebut karena PBB dan sejumlah negara tidak melibatkan mereka dalam perumusan solusi. Hamas menganggap proses itu tidak menghargai posisi mereka sebagai aktor penting di Gaza. -
Tuntutan Politik dan Kemanusiaan yang Tidak Terakomodasi
Hamas menilai resolusi itu gagal menjawab kebutuhan politik dan kemanusiaan rakyat Palestina. Mereka menekankan bahwa Gaza membutuhkan solusi yang menghormati aspirasi politik warga, bukan sekadar penempatan pasukan asing.
Dampak Penolakan terhadap Rencana Perdamaian
Penolakan Hamas memunculkan sejumlah konsekuensi:
-
Tantangan Implementasi Resolusi
Tanpa dukungan aktor utama di Gaza, pasukan internasional akan menghadapi hambatan besar untuk menjalankan mandatnya. -
Peningkatan Polarisasi di Gaza
Penolakan ini memperlebar perbedaan pandangan antara Hamas, pemerintahan Palestina lainnya, dan pihak internasional. Situasi ini dapat memicu ketegangan baru di lapangan. -
Pertarungan soal Legitimasi
Karena Hamas menolak ISF, sebagian warga Gaza mungkin mempertanyakan legitimasi pasukan tersebut. Hal ini dapat mengganggu efektivitas misi dan mengurangi peluang terciptanya stabilitas jangka panjang.
Reaksi Internasional dan Tantangan Operasional
Beberapa negara mendukung rencana pengerahan ISF, namun negara lain menimbang risiko bentrokan dengan faksi lokal dan kesulitan operasional di wilayah dengan dinamika kompleks seperti Gaza. Perdebatan juga muncul mengenai komposisi pasukan, mekanisme komando, serta batasan mandat mereka. Hingga kini, berbagai negara masih mempertimbangkan kontribusi mereka karena wilayah Gaza membawa risiko keamanan yang signifikan.
Kesimpulan
Penolakan Hamas terhadap kehadiran pasukan internasional menyentuh inti persoalan kedaulatan, legitimasi, dan arah masa depan Gaza. Hamas memandang ISF bukan sebagai solusi, tetapi sebagai ancaman terhadap identitas politik rakyat Palestina.
Sementara itu, komunitas internasional menghadapi dilema besar: bagaimana mewujudkan stabilitas tanpa memperburuk ketegangan dan ketidakpercayaan di Gaza.
Sumber : CNN NEWS
