Berita Dunia Terkini – Pada pertengahan tahun 2025, pemerintah Thailand dan Kamboja akhirnya menyepakati gencatan senjata setelah melalui pembicaraan panjang. Meski kedua negara setuju untuk menghentikan serangan dan aksi kekerasan, banyak warga yang masih merasa takut untuk kembali ke rumah mereka di daerah perbatasan yang sempat dilanda konflik.

Latar Belakang Konflik Thailand-Kamboja

Konflik antara Thailand dan Kamboja sudah berlangsung lama, terutama terkait sengketa wilayah di sekitar Cagar Alam Preah Vihear di perbatasan kedua negara. Meskipun perjanjian internasional sempat mengatur batas wilayah, ketegangan dan bentrokan militer terus terjadi, memengaruhi kehidupan warga di sekitar perbatasan.

Ribuan orang terpaksa mengungsi demi menghindari bahaya. Mereka meninggalkan rumah dan kehidupan mereka yang sebelumnya tenang, hidup dalam ketakutan akan ancaman kekerasan. Kondisi ini memperburuk situasi sosial dan ekonomi warga yang sudah terjebak dalam konflik tersebut.

Gencatan Senjata: Harapan Baru yang Tertunda

Setelah melalui pembicaraan panjang, Thailand dan Kamboja akhirnya mengumumkan gencatan senjata pada Agustus 2025. Banyak orang mengharapkan hal ini bisa membawa kedamaian, tetapi ketakutan yang melanda warga di daerah konflik menghalangi mereka untuk kembali ke rumah. Meski pihak berwenang berjanji akan menjamin keamanan, rasa takut masih terus menghantui.

“Kami merasa takut jika kami kembali. Perang bisa terjadi lagi kapan saja,” ujar seorang warga yang terpaksa meninggalkan rumahnya di perbatasan. Ketidakpastian tentang pelaksanaan gencatan senjata semakin memperburuk perasaan khawatir warga.

Dampak Psikologis pada Warga

Warga yang telah lama terpapar kekerasan dan ketegangan selama konflik mengalami trauma psikologis yang mendalam. Rasa takut mereka bukan hanya datang dari kemungkinan serangan militer, tetapi juga ketidakpastian tentang masa depan mereka. Banyak yang kehilangan rumah, pekerjaan, bahkan anggota keluarga akibat konflik ini.

Pakar psikologi menyatakan bahwa pemulihan mental bagi warga yang terdampak akan memakan waktu. Proses ini melibatkan bukan hanya pemulihan fisik, tetapi juga pemulihan mental yang bisa berlangsung lama. Ketakutan yang mendalam akan sulit hilang begitu saja meskipun gencatan senjata sudah diterapkan.

Kesulitan dalam Membuat Warga Kembali ke Rumah

Pemerintah Thailand dan Kamboja menghadapi tantangan besar dalam meyakinkan warga untuk kembali ke rumah mereka. Meski pemerintah menawarkan bantuan dan berjanji akan membangun kembali infrastruktur yang hancur, ketakutan warga tetap menjadi hambatan besar. Beberapa orang bahkan enggan meninggalkan tempat pengungsian, memilih tetap tinggal di area yang lebih aman meskipun kehidupan mereka terbatas.

Selain rasa takut akan kemungkinan kekerasan, masalah sosial dan ekonomi juga membuat banyak warga enggan kembali. Mereka kehilangan pekerjaan dan sumber pendapatan selama konflik. Tanpa adanya jaminan keamanan dan dukungan ekonomi, banyak yang merasa tidak ada alasan untuk kembali ke rumah mereka yang hancur.

Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Aman

Meskipun situasinya penuh tantangan, masih ada harapan bahwa perdamaian dan pemulihan bisa tercapai. Gencatan senjata memberi ruang bagi kedua negara untuk membangun mekanisme jangka panjang yang memastikan keamanan dan stabilitas di perbatasan.

Bantuan internasional juga memainkan peran penting dalam proses pemulihan. Selain menyediakan kebutuhan dasar seperti makanan, obat-obatan, dan tempat tinggal, bantuan psikologis dan sosial juga sangat diperlukan agar warga bisa pulih dan melanjutkan kehidupan mereka dengan normal.

Kesimpulan

Gencatan senjata antara Thailand dan Kamboja memberikan harapan, tetapi ketakutan dan trauma yang mendalam membuat warga enggan kembali ke rumah mereka. Pemulihan pascakonflik membutuhkan waktu dan komitmen bersama dari berbagai pihak. Hanya dengan usaha kolektif, masa depan yang lebih aman dan damai bisa terwujud.

Sumber : CNN NEWS

By ALEXA