Berita Dunia Terkini – Axial Seamount, atau sering disebut juga Axial Volcano, adalah salah satu gunung api bawah laut paling aktif dan paling banyak dipelajari di dunia. Terletak di Samudra Pasifik bagian timur laut, sekitar 480 kilometer di barat pantai Oregon, Amerika Serikat, gunung ini berdiri di atas punggungan Juan de Fuca Ridge—daerah di mana lempeng tektonik samudra bergerak saling menjauh.
Gunung ini dikenal bukan hanya karena aktivitas vulkaniknya yang tinggi, tetapi juga karena menjadi laboratorium alami bagi para ilmuwan untuk memahami bagaimana gunung berapi bekerja di bawah laut dan bagaimana kehidupan dapat bertahan di kondisi ekstrem.
Profil Geologi Axial Seamount
Sebagai gunung berapi perisai bawah laut (Underwater Shield Volcano), Axial Seamount berdiri di kedalaman sekitar 1.400 meter di bawah permukaan laut dengan ketinggian sekitar 1.100 meter dari dasar laut.
Puncaknya memiliki kaldera besar berbentuk persegi panjang sepanjang 8 kilometer dan lebar 3 kilometer—area inilah tempat sebagian besar aktivitas vulkanik terjadi.
Uniknya, Axial Seamount terbentuk di pertemuan dua fenomena tektonik besar:
-
Hotspot Cobb–Eickelberg, yang menyediakan suplai magma konstan.
-
Punggungan Juan de Fuca, tempat lempeng tektonik bergerak menjauh satu sama lain.
Kombinasi antara hotspot dan spreading center inilah yang menjadikan Axial Seamount sangat aktif dan menarik secara ilmiah.
Laboratorium Vulkanologi Bawah Laut Dunia
Lokasinya yang relatif dekat dengan daratan membuat Axial Seamount mudah dijangkau kapal riset dalam waktu sehari. Hal ini memudahkan pemasangan berbagai instrumen canggih seperti:
-
Bottom-pressure recorders
-
Tiltmeters
-
Hidrofon
-
Kabel elektro-optik yang terhubung ke daratan melalui Ocean Observatories Initiative Regional Cabled Array
Dengan jaringan ini, ilmuwan dapat memantau aktivitas vulkanik secara real-time, termasuk pergerakan magma dan deformasi dasar laut.
Fenomena Inflasi–Deflasi dan Prediksi Letusan
Axial Seamount terkenal dengan siklus inflasi dan deflasi:
-
Inflasi: ketika ruang magma di bawah kaldera terisi dan dasar laut mengembang.
-
Deflasi: terjadi setelah erupsi, ketika magma keluar dan permukaan dasar laut turun kembali.
Pola ini menjadi dasar ilmuwan dalam memprediksi waktu letusan berikutnya.
Letusan besar yang tercatat terjadi pada tahun 1998, 2011, dan 2015.
Letusan 2015 bahkan berhasil di prediksi dengan tepat berdasarkan data deformasi dasar laut dan aktivitas seismik—sebuah pencapaian besar dalam dunia vulkanologi bawah laut.
Sejarah Letusan dan Dampaknya
Letusan tahun 1998 menjadi momen penting karena merupakan erupsi bawah laut pertama yang terdeteksi secara langsung. Data tersebut awalnya diperoleh dari sistem akustik rahasia Angkatan Laut AS.
Sementara itu, letusan tahun 2011 dan 2015 memperkuat model prediksi ilmuwan, di mana ribuan gempa kecil terdeteksi hanya dalam hitungan jam sebelum letusan terjadi.
Meskipun letusannya tidak menimbulkan tsunami besar karena berada di kedalaman 1,4 km, aktivitas Axial Seamount tetap penting untuk dipelajari. Proses di gunung api bawah laut ini memberikan wawasan berharga tentang bagaimana kerak bumi terbentuk dan bagaimana magma bergerak di bawah permukaan.
Prediksi Erupsi Berikutnya: Sebelum Akhir 2025
Ahli geofisika Bill Chadwick dari Oregon State University memperkirakan bahwa letusan berikutnya kemungkinan terjadi sebelum akhir tahun 2025. Prediksi ini berdasarkan data inflasi dasar laut dan peningkatan aktivitas seismik yang mulai menunjukkan pola serupa dengan siklus-siklus sebelumnya.
Namun, para peneliti menegaskan bahwa prediksi vulkanik bukanlah kepastian mutlak. Meskipun modelnya semakin akurat, proses geologi selalu dinamis dan kompleks.
Kesimpulan: Gunung Api yang Mengubah Cara Kita Mempelajari Bumi
Axial Seamount bukan sekadar gunung api bawah laut. Ia adalah pintu menuju pemahaman mendalam tentang dinamika bumi—tentang bagaimana kerak samudra terbentuk, bagaimana magma bergerak, dan bagaimana kehidupan dapat berkembang di lingkungan ekstrem.
Dengan terus dipantau secara real-time, Axial Seamount menjadi contoh sukses kemajuan ilmu vulkanologi modern dan simbol kolaborasi global dalam memahami fenomena alam bawah laut.
Sumber : Youtube

