Berita Dunia Terkini – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Pembaruan prakiraan pada Juni 2026 menunjukkan hampir setengah wilayah Indonesia mengalami durasi kemarau yang lebih lama daripada rata-rata klimatologis.
Kondisi tersebut muncul seiring meningkatnya peluang fenomena El Niño di Samudra Pasifik. BMKG melihat peluang El Niño lemah mencapai 100 persen, sementara peluang El Niño moderat hingga kuat juga cukup tinggi. Di sisi lain, Monsun Australia tetap aktif hingga akhir tahun sehingga memperkuat karakter musim kemarau di Indonesia.
Kapan Puncak Musim Kemarau 2026?
BMKG memperkirakan Agustus menjadi puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia. Pada periode tersebut, hampir separuh wilayah daratan Indonesia memasuki fase paling kering dalam satu tahun.
Meski begitu, setiap daerah memiliki pola yang berbeda. Sejumlah wilayah memasuki puncak kemarau lebih awal pada Juli, sedangkan wilayah lain baru mencapai kondisi paling kering pada September.
Sampai Kapan Musim Kemarau Berlangsung?
Musim kemarau tahun ini berlangsung sekitar 100 hingga 210 hari di berbagai wilayah Indonesia. BMKG mencatat hampir 49 persen wilayah Indonesia mengalami durasi yang lebih panjang daripada biasanya.
Kondisi ini membuat sejumlah daerah menghadapi cuaca kering hingga akhir September bahkan Oktober 2026. Jika El Niño terus menguat pada paruh kedua tahun ini, periode dapat bertahan lebih lama di beberapa wilayah.
Kemarau 2026 Lebih Kering dari Normal
Selain berlangsung lebih lama, kemarau tahun ini juga membawa curah hujan yang lebih rendah dibandingkan rata-rata tahunan. BMKG mencatat lebih dari separuh wilayah Indonesia menerima curah hujan di bawah normal selama musim .
Penurunan curah hujan tersebut berpotensi mengurangi ketersediaan air bersih, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, serta mengganggu aktivitas pertanian apabila masyarakat tidak melakukan langkah antisipasi sejak dini.
Dampak yang Perlu Diwaspadai
Kemarau panjang memberikan tantangan bagi berbagai sektor. Petani perlu menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan. Pemerintah daerah juga perlu memperkuat pengelolaan sumber daya air agar pasokan air bersih tetap tersedia bagi masyarakat.
Selain itu, cuaca yang semakin kering meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat perlu memperkuat langkah pencegahan serta meningkatkan kesiapsiagaan selama musim berlangsung.
Kesimpulan
BMKG memprediksi musim kemarau 2026 berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal. Agustus menjadi puncak di sebagian besar wilayah Indonesia, sementara beberapa daerah masih menghadapi cuaca kering hingga September atau Oktober. Penguatan fenomena El Niño menjadi faktor utama yang mendorong kondisi tersebut. Karena itu, masyarakat perlu menyiapkan langkah antisipasi sejak sekarang, terutama terkait kebutuhan air, sektor pertanian, serta pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
Sumber : CNN NEWS
