Berita Dunia Terkini –Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat pada awal 2026. Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Teluk Persia, sementara pemerintah Iran mengeluarkan pernyataan keras sebagai respons. Situasi ini memicu pertanyaan besar di tingkat global: jika AS menyerang Iran, siapa saja yang akan membela negara tersebut?


1. Iran Mengandalkan Kekuatan Militernya Sendiri

Pemerintah Iran menegaskan bahwa negaranya mampu mempertahankan diri tanpa bantuan negara lain. Para pejabat Iran secara terbuka menyampaikan keyakinan terhadap kemampuan militernya, baik dari sisi persenjataan, strategi, maupun kesiapan pasukan.

Pemimpin Iran juga menyatakan bahwa setiap serangan terhadap wilayahnya akan mereka anggap sebagai perang terbuka. Pernyataan ini menunjukkan bahwa memilih sikap ofensif-defensif dan siap merespons agresi secara langsung.


2. Poros Perlawanan dan Kelompok Sekutu 

Selain mengandalkan kekuatan internal, membangun jaringan sekutu non-negara yang dikenal sebagai Axis of Resistance. Jaringan ini mencakup berbagai kelompok militan yang memiliki hubungan ideologis dan strategis dengan Teheran.

Beberapa kelompok di Irak, seperti Kata’ib Hezbollah, secara terbuka menyatakan kesiapan mereka untuk membantu jika Amerika Serikat melancarkan serangan. Kelompok-kelompok lain di Suriah, Lebanon, dan Yaman juga menunjukkan loyalitas terhadap dan berpotensi melakukan aksi balasan terhadap kepentingan AS di kawasan.

Meski demikian, para analis menilai bahwa kemampuan kelompok-kelompok ini untuk menghadapi kekuatan militer AS secara langsung tetap terbatas dan lebih berperan dalam perang asimetris.


3. Sikap Negara-Negara Besar di Dunia

Rusia dan China

Rusia dan China berpotensi memberikan dukungan politik dan diplomatik kepada Iran. Kedua negara memiliki kepentingan strategis untuk menahan dominasi Amerika Serikat di Timur Tengah. Namun, mereka cenderung menghindari keterlibatan militer langsung karena konflik terbuka berisiko memicu perang berskala global.

Negara-Negara Arab dan Muslim

Negara-negara Arab mengambil sikap yang beragam. Beberapa negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan Oman mendorong jalur diplomasi dan menolak eskalasi militer. Mereka berupaya menjaga stabilitas kawasan dan mencegah konflik meluas.

Meski demikian, negara-negara Arab hampir pasti tidak akan memberikan dukungan militer langsung kepada karena sebagian besar dari mereka menjalin kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat.

Negara-Negara Barat

Negara-negara Barat selain AS, seperti Inggris dan anggota Uni Eropa, lebih memilih pendekatan diplomatik. Mereka menekankan pentingnya stabilitas kawasan dan menghindari konflik terbuka, meskipun mereka tetap menjaga komitmen keamanan terhadap sekutu mereka di Timur Tengah.


4. Respons Dunia Internasional

Banyak negara dan organisasi internasional menyerukan penyelesaian konflik melalui diplomasi. Mereka menilai perang terbuka antara AS dan hanya akan memperburuk ketegangan global, mengganggu stabilitas ekonomi dunia, serta meningkatkan risiko konflik regional yang lebih luas.


Kesimpulan

Jika Amerika Serikat menyerang Iran, maka:

  • Iran akan membela diri dengan kekuatan militernya sendiri.

  • Kelompok militan sekutu Iran berpotensi melakukan serangan balasan di kawasan Timur Tengah.

  • Rusia dan China kemungkinan memberikan dukungan politik dan diplomatik, bukan militer langsung.

  • Negara-negara Arab dan Barat cenderung menahan diri dan mendorong diplomasi.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik antara AS dan Iran tidak hanya menyangkut dua negara, tetapi juga melibatkan keseimbangan geopolitik global yang sangat kompleks.

Sumber : CNN NEWS

By ALEXA