Berita Dunia Terkini – Ketegangan antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat kembali memanas pada awal 2026. Situasi ini memburuk setelah seorang pejabat tinggi militer Iran melontarkan ancaman keras terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Jenderal Iran tersebut secara terbuka mengancam akan “memotong tangan” Trump jika Amerika Serikat berani melakukan invasi ke Teheran, ibu kota Iran.
Ketegangan Iran–AS Kian Memuncak
Konflik ini muncul di tengah gelombang demonstrasi besar yang melanda berbagai kota di Iran sejak akhir 2025. Rakyat Iran turun ke jalan untuk memprotes krisis ekonomi, melemahnya mata uang, serta menuntut reformasi politik. Menanggapi situasi tersebut, Presiden Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras dan memperingatkan Iran agar tidak menggunakan kekerasan berlebihan terhadap para demonstran.
Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat siap turun tangan jika pemerintah Iran melakukan tindakan brutal, termasuk pembunuhan massal terhadap warga sipil. Ia juga menegaskan bahwa Washington tidak akan tinggal diam jika rezim Iran melanggar hak asasi manusia secara ekstrem.
Jenderal Iran Layangkan Ancaman Terbuka
Menanggapi pernyataan Trump, Jenderal Mohsen Rezaei, tokoh senior Garda Revolusi Iran (IRGC), menyampaikan ancaman langsung. Ia menegaskan bahwa Iran akan membalas keras setiap upaya agresi dari Amerika Serikat. Rezaei secara tegas menyebut bahwa jika Trump atau pihak asing “mengangkat tangan” untuk menyerang Iran, maka Iran akan “memotong tangan dan jarinya”.
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap keras militer Iran dalam menghadapi tekanan eksternal. Rezaei juga menegaskan bahwa Iran tidak akan membiarkan pihak mana pun mengintervensi urusan dalam negerinya, terutama melalui ancaman militer.
Militer Iran Tegaskan Kesiapan Tempur
Selain Rezaei, pejabat militer Iran lainnya turut menyuarakan sikap serupa. Mayor Jenderal Amir Hatami menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran kini memiliki kesiapan yang jauh lebih baik dibandingkan masa lalu. Ia menyatakan bahwa Iran siap melakukan serangan balasan, bahkan serangan pendahuluan, jika pihak asing terus melontarkan ancaman terhadap kedaulatan negara.
Hatami juga memperingatkan bahwa setiap kesalahan perhitungan dari Amerika Serikat akan berujung pada konsekuensi berat.
Reaksi Politik dan Internasional
Parlemen Iran ikut memperkuat retorika tersebut. Sejumlah anggota parlemen menyampaikan peringatan bahwa Amerika Serikat akan menerima “pelajaran yang tak terlupakan” jika benar-benar menyerang Iran. Mereka menilai ancaman Trump sebagai bentuk campur tangan langsung terhadap stabilitas nasional Iran.
Sementara itu, pihak Amerika Serikat tetap menegaskan bahwa mereka lebih mengutamakan tekanan politik dan diplomatik. Namun, Trump menegaskan bahwa opsi militer tetap tersedia jika situasi di Iran memburuk dan pemerintah setempat terus menindas rakyatnya.
Analisis Dampak dan Risiko Konflik
Ancaman ekstrem yang disampaikan oleh pejabat militer Iran menunjukkan tingginya eskalasi ketegangan antara kedua negara. Retorika keras ini memang bersifat simbolis, namun pernyataan tersebut tetap meningkatkan kekhawatiran komunitas internasional akan potensi konflik militer terbuka di kawasan Timur Tengah.
Hubungan Iran dan Amerika Serikat yang sudah lama memburuk kini kembali berada di titik rawan. Setiap pernyataan provokatif berpotensi memicu salah tafsir dan eskalasi yang lebih besar.
Kesimpulan
Iran dan Amerika Serikat kembali memperlihatkan konfrontasi terbuka melalui perang pernyataan. Ancaman jenderal Iran terhadap Donald Trump menegaskan sikap keras Teheran terhadap kemungkinan invasi asing. Di sisi lain, Amerika Serikat terus menekan Iran dengan ancaman tindakan tegas terkait isu kemanusiaan. Tanpa upaya diplomasi yang kuat, ketegangan ini berisiko mengganggu stabilitas regional dan memicu konflik yang lebih luas.
Sumber : CNN NEWS
