Berita Dunia Terkini – China dan Jepang kembali berseteru setelah seorang politisi Jepang mengeluarkan pernyataan kontroversial tentang kemungkinan keterlibatan Tokyo dalam konflik Taiwan. Pemerintah China langsung mengecam pernyataan itu dan memperingatkan Jepang agar menghentikan sikap yang mereka anggap provokatif. Perselisihan ini berkembang menjadi perang retorika yang mendorong publik untuk membandingkan kekuatan militer kedua negara.
Seorang politisi Jepang menyatakan bahwa Jepang siap membantu Taiwan jika terjadi serangan dari China. Pemerintah China segera menanggapi dengan menolak keras pernyataan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap kepentingan inti Beijing. China kemudian meningkatkan protes diplomatik dan menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan negara lain ikut campur urusan Taiwan. Ketegangan pun naik karena kedua pihak terus mempertahankan posisi masing-masing.
Perbandingan Kekuatan Militer China vs Jepang
1. Indeks Kekuatan Militer
Global Firepower 2025 mencatat China sebagai negara dengan PowerIndex sekitar 0,0788, sedangkan Jepang mencatat angka 0,1839. Skor yang lebih rendah menunjukkan kekuatan lebih besar, sehingga China memegang posisi lebih dominan dalam kategori ini. Jepang tetap masuk jajaran negara kuat secara militer, namun skornya masih tertinggal jauh dari China.
2. Personel Militer
China mengerahkan sekitar 2,5 juta personel aktif, jauh lebih banyak dibanding Jepang yang mengandalkan ±261 ribu personel. Dengan populasi yang jauh lebih besar, China memiliki kapasitas mobilisasi yang sangat luas jika konflik berlangsung lama.
3. Kekuatan Udara
China menempatkan 3.309 unit pesawat militer dalam armadanya, termasuk 1.212 pesawat tempur. Jepang mengoperasikan 1.443 pesawat, dengan 217 pesawat tempur di dalamnya. China unggul dari sisi jumlah, tetapi Jepang mengandalkan teknologi canggih dan integrasi sistem tempur modern untuk mempertahankan efektivitas serangan dan pertahanan udara.
4. Kekuatan Darat
China membangun kekuatan darat yang jauh lebih besar dibanding Jepang.
China mengoperasikan:
-
6.800 tank
-
144.000 kendaraan lapis baja
-
3.490 artileri self-propelled
-
2.750 peluncur roket
Sementara Jepang memiliki:
-
521 tank
-
31.000 kendaraan lapis baja
-
149 artileri self-propelled
-
54 peluncur roket
Dominasi China terlihat jelas pada hampir seluruh kategori kekuatan darat.
5. Kekuatan Laut
China mengembangkan armada laut terbesar di dunia dengan 754 kapal, termasuk 3 kapal induk dan 61 kapal selam. Jepang mengoperasikan 159 kapal, termasuk kapal induk helikopter dan 24 kapal selam.
Meski kalah jumlah, Jepang mengunggulkan teknologi anti-kapal selam, sistem sonar mutakhir, dan manuver maritim presisi.
6. Logistik dan Infrastruktur
China memperluas kemampuan logistiknya dengan ratusan bandara militer dan armada dagang yang besar. Jepang mengoptimalkan pelabuhan modern dan efisien untuk menjaga kelancaran mobilitas pasukan dan suplai.
7. Anggaran Pertahanan
China mengalokasikan anggaran pertahanan sekitar US$ 266 miliar, sedangkan Jepang menganggarkan US$ 57 miliar. China memanfaatkan anggaran yang jauh lebih besar untuk memperbarui alutsista, memperluas jangkauan militer, dan meningkatkan kualitas teknologi perang.
Strategi, Tantangan, dan Prospek Konflik
China terus memperkuat militernya melalui modernisasi besar-besaran, termasuk pengembangan rudal hipersonik, pesawat tempur generasi terbaru, dan sistem nuklir. Jepang merespons dengan menaikkan anggaran pertahanan dan memperluas kerja sama militer dengan negara sekutu, terutama Amerika Serikat.
Secara geografis, Jepang memperoleh keuntungan defensif karena wilayah kepulauan mudah mereka pertahankan dari serangan langsung. Namun, China memiliki kekuatan besar yang memungkinkan mereka menjalankan operasi besar-besaran jika konflik regional meningkat, terutama di sekitar Selat Taiwan.
Kesimpulan
Perbandingan data menunjukkan bahwa China unggul di hampir semua aspek militer — mulai dari personel, kekuatan udara, darat, laut, hingga anggaran. Jepang tetap kuat lewat teknologi tinggi, strategi defensif, dan dukungan aliansi, tetapi tidak mengimbangi besarnya skala militer China.
Ketegangan Taiwan memicu adu retorika kedua negara, namun potensi eskalasi tetap bergantung pada langkah diplomatik dan strategi keamanan di kawasan Asia Timur.
Sumber : CNN NEWS
