Berita Dunia Terkini – Di antara gurun sunyi dan kota-kota hancur di utara Suriah, dentuman artileri kembali terdengar. Pasukan bergerak menembus kabut perbatasan, menandai babak baru dalam konflik panjang antara Turki dan kelompok Kurdi.
Di balik semua itu, bukan sekadar perang perebutan wilayah—melainkan pertarungan identitas dan kedaulatan, antara perjuangan untuk diakui dan keinginan mempertahankan keutuhan bangsa.
Bagi Turki, ini adalah perang demi keamanan nasional.
Bagi Kurdi, ini adalah perjuangan sejarah untuk mendapatkan hak menentukan nasib sendiri.
Sebuah konflik yang telah menelan waktu puluhan tahun dan mengubah wajah Timur Tengah hingga kini.
Akar Konflik: Dari PKK hingga YPG
Sejak tahun 1980-an, Turki berperang melawan PKK (Partiya Karkerên Kurdistanê), kelompok separatis Kurdi yang menuntut kemerdekaan dari wilayah tenggara Turki. Konflik tersebut menelan puluhan ribu korban jiwa, menjadikannya salah satu perang internal terpanjang di dunia modern.
Namun, ketika perang saudara Suriah pecah pada 2011, muncul kekuatan baru: YPG (Unit Perlindungan Rakyat), kelompok bersenjata Kurdi yang berperan penting dalam melawan ISIS dan didukung oleh Amerika Serikat serta koalisi internasional.
Bagi Ankara, YPG hanyalah bayangan PKK—memiliki simbol, ideologi, dan struktur serupa.
Turki melihat YPG sebagai ancaman serius yang dapat memicu semangat separatis di kalangan etnis Kurdi di dalam negeri.
Operasi Militer Turki dan Ambisi Geopolitik
Dalam beberapa tahun terakhir, Turki melancarkan berbagai operasi militer lintas batas, di antaranya:
-
Operasi Euphrates Shield (2016)
-
Operasi Olive Branch (2018) di Afrin
-
Operasi Peace Spring (2019) di timur sungai Eufrat
Tujuan resmi dari operasi-operasi ini adalah menumpas ancaman teroris dan menciptakan zona aman, serta memulangkan sebagian pengungsi Suriah.
Namun banyak analis menilai, langkah ini juga berkaitan dengan ambisi geopolitik Turki untuk memperluas pengaruh dan mencegah terbentuknya wilayah otonom Kurdi di sepanjang perbatasan.
Wilayah konflik seperti Afrin, Kobane, Tal Abyad, dan Al-Hasakah bukan hanya strategis karena posisinya, tetapi juga kaya sumber daya alam—minyak, gandum, dan air—yang menjadikannya titik panas dalam persaingan regional.
Ketegangan Diplomatik dan Dampak Kemanusiaan
Langkah militer Turki memicu reaksi keras dari berbagai negara.
-
Amerika Serikat menilai serangan tersebut mengancam sekutunya, pasukan Kurdi.
-
Rusia justru memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat pengaruhnya di Suriah.
-
Negara-negara Eropa menyerukan penghentian serangan karena khawatir akan timbulnya krisis kemanusiaan baru.
Di lapangan, ribuan warga sipil terpaksa mengungsi, sementara kota-kota di perbatasan hancur akibat pertempuran. Situasi di utara Suriah kini menjadi labirin konflik yang melibatkan Turki, Kurdi, Rusia, Amerika Serikat, dan pemerintah Suriah.
Politik Dalam Negeri Turki: Antara Keamanan dan Citra Nasional
Banyak pengamat menilai bahwa Presiden Recep Tayyip Erdoğan menggunakan isu keamanan sebagai cara untuk menggalang dukungan nasionalis di dalam negeri.
Menunjukkan ketegasan terhadap kelompok Kurdi dianggap memperkuat citra Turki sebagai kekuatan regional yang berdaulat dan berpengaruh, terutama di tengah tekanan ekonomi dan politik domestik.
Dua Narasi yang Tak Pernah Bertemu
Bagi Turki, ancaman separatis belum berakhir.
Bagi Kurdi, perjuangan menuju pengakuan dan otonomi masih panjang.
Dua narasi yang saling bertentangan inilah yang membuat konflik terus berulang—pertarungan antara keamanan dan identitas, antara kedaulatan dan kebebasan.
Selama kedua pihak belum menemukan jalan kompromi, perdamaian sejati di utara Suriah masih menjadi harapan yang samar di tengah kabut perang.
Kesimpulan
Konflik antara Turki dan Kurdi bukan hanya soal wilayah, tetapi tentang sejarah, politik, dan identitas.
Selama kepentingan nasional dan aspirasi etnis belum menemukan titik temu, Timur Tengah akan terus menyaksikan babak-babak baru dari pertarungan lama ini.
Sumber : Youtube

