Perjalanan El Salvador: Dari Negara Paling Berbahaya hingga Paling Aman di Amerika LatinPerjalanan El Salvador: Dari Negara Paling Berbahaya hingga Paling Aman di Amerika Latin

Berita Dunia Terkini – El Salvador, sebuah negara kecil di Amerika Tengah dengan populasi sekitar 6 juta jiwa, memiliki sejarah yang penuh dengan kekerasan dan ketegangan. Meski berukuran kecil, negara ini dikenal sebagai salah satu tempat paling berbahaya di dunia selama beberapa dekade, dengan tingkat kejahatan dan kekerasan yang ekstrem. Namun, sejak 2019, El Salvador mengalami perubahan signifikan, bertransformasi dari negara dengan tingkat pembunuhan tertinggi menjadi salah satu yang paling aman di Amerika Latin. Bagaimana perjalanan ini bisa terjadi?

Kekerasan yang Menghantui El Salvador

Selama beberapa dekade, El Salvador dikenal dengan tingkat kekerasan yang luar biasa tinggi. Pada tahun 2015, negara ini mencatatkan angka pembunuhan yang mengerikan—106 per 100.000 penduduk, menjadikannya sebagai negara dengan tingkat penghilangan nyawa tertinggi di dunia, bahkan lebih buruk daripada Suriah yang tengah dilanda perang saudara. Kekerasan ini tidak hanya berupa pembunuhan, tetapi juga termasuk mutilasi, pemerasan, dan pemindahan paksa yang mempengaruhi ribuan orang, termasuk anak-anak dan remaja yang dipaksa untuk meninggalkan rumah dan sekolah mereka.

Akar Masalah: Perang Saudara dan Kehidupan Setelahnya

Akar dari kekerasan ini dapat di telusuri hingga era perang saudara yang terjadi pada 1980-an. Konflik tersebut antara pemerintah yang di dukung oleh Amerika Serikat dan kelompok gerilyawan sayap kiri, yang di kenal sebagai FMLN (Front Pembebasan Nasional Farabundo Martí), meledak karena ketimpangan ekonomi yang besar, korupsi, dan pemerintahan yang represif. Perang ini menyebabkan sekitar 75.000 orang tewas dan lebih dari 1 juta orang terpaksa mengungsi, banyak di antaranya melarikan diri ke Amerika Serikat.

Meskipun perang berakhir pada 1992 dengan penandatanganan perjanjian damai, efeknya terhadap masyarakat Salvador sangat mendalam. Banyak pemuda yang terpengaruh oleh trauma perang, serta kegagalan pemerintah untuk menyediakan peluang ekonomi, mencari jalan hidup melalui cara-cara yang lebih gelap, termasuk bergabung dengan kelompok kriminal.

Bangkitnya Geng MS 13 dan Barrio 18

Banyak pengungsi Salvador yang tiba di Amerika Serikat pada 1980-an dan 1990-an, terjerumus dalam kehidupan penuh diskriminasi dan kemiskinan di daerah-daerah seperti Los Angeles. Di sana, dua geng terkenal—MS 13 dan Barrio 18—bermula sebagai kelompok perlindungan bagi imigran Salvador, tetapi kemudian berkembang menjadi organisasi kriminal yang brutal. Kedua geng ini terlibat dalam berbagai kejahatan, seperti perdagangan narkoba, pemerasan, perampokan, dan pembunuhan.

Pada awal 2000-an, pemerintah El Salvador gagal mengendalikan kembalinya anggota geng-geng ini setelah mereka di deportasi dari Amerika Serikat. Alih-alih bubar, geng-geng ini justru membangun kembali kekuasaannya di tanah kelahiran mereka, menciptakan peperangan yang semakin brutal untuk menguasai wilayah.

Upaya Pemerintah yang Gagal dan Kembalinya Keadaan Darurat

Pemerintah El Salvador telah berusaha untuk mengatasi masalah ini dengan berbagai cara. Pada tahun 2003, kebijakan manodura (tangan besi) di berlakukan, yang memungkinkan penangkapan massal anggota geng. Namun, strategi ini gagal, karena geng-geng tersebut mulai mengendalikan operasi kriminal mereka dari dalam penjara. Tahun 2012, pemerintah mencoba untuk melakukan negosiasi dengan MS 13 dan Barrio 18, menawarkan insentif agar mereka menghentikan kekerasan. Namun perjanjian ini gagal dan kekerasan kembali meningkat.

Pada tahun 2015, presiden Salvador Sanchez Cerén mengirimkan militer untuk melawan geng, namun tetap saja, kekuatan geng-geng ini tidak terkalahkan.

Kehadiran Nayib Bukele: Perubahan Besar dalam Lima Tahun

Namun, situasi mulai berubah pada 1 Juni 2019, ketika Nayib Bukele di lantik sebagai Presiden El Salvador. Bukele yang memenangkan pemilihan dengan kemenangan telak langsung mengambil tindakan tegas terhadap kekerasan geng. Hanya dalam lima tahun, ia berhasil menurunkan tingkat penghilangan nyawa yang sangat tinggi. Pada tahun 2019, angka penghilangan nyawa mencapai 103 per 100.000 penduduk, namun pada 2023, jumlah ini turun drastis menjadi hanya 2,4 kasus per 100.000 penduduk. Ini menjadikan El Salvador negara paling aman di Amerika Latin.

Kebijakan Kontroversial Bukele: Menumpas Geng dengan Cara yang Belum Pernah Dilakukan Sebelumnya

Salah satu kebijakan utama yang di ambil oleh Bukele untuk menanggulangi kekerasan geng adalah pengesahan state of emergency (status darurat) pada tahun 2022. Yang memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk menangkap siapapun yang di curigai terlibat dengan geng tanpa perlu bukti atau proses peradilan. Keputusan ini di loloskan melalui Dekret Legislatif No. 333, dan sejak saat itu lebih dari 953 orang yang di duga anggota geng telah di tahan. Sebagai hasilnya, El Salvador untuk pertama kalinya dalam sejarahnya melaporkan 730 hari berturut-turut tanpa pembunuhan terkait geng.

Namun, kebijakan ini juga menuai kritik keras dari berbagai organisasi hak asasi manusia. Yang menyebutkan adanya pelanggaran HAM dan penahanan orang-orang yang tidak bersalah tanpa proses peradilan yang jelas.

Penahanan dan Kondisi di Penjara

Sebagai bagian dari kebijakan Bukele, pemerintah juga membangun fasilitas penahanan khusus bernama Cecot pada Januari 2023. Fasilitas ini di rancang untuk menampung hingga 40.000 tahanan dengan keamanan maksimal. Di sini, anggota geng dari MS 13 dan Barrio 18 yang berpangkat tinggi di tempatkan dalam kondisi yang sangat keras dan tidak manusiawi, dengan fasilitas penjara yang sangat terbatas.

Bukele: Diktator atau Pembebas?

Nayib Bukele sering di juluki sebagai “diktator paling keren di dunia” oleh para pendukungnya karena pendekatan tegasnya dalam menanggulangi kejahatan. Namun, meskipun banyak yang memuji keberhasilannya dalam mengurangi kekerasan, kebijakannya yang keras mendapat kritik tajam dari berbagai kelompok internasional yang khawatir dengan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di bawah rezim pengecualian ini.

Kesimpulan: Sebuah Kisah Transformasi yang Kontroversial

El Salvador kini berada dalam posisi yang berbeda di bandingkan dengan beberapa tahun lalu. Meskipun tercatat sebagai negara dengan tingkat kekerasan yang menurun drastis. Kebijakan keras yang di terapkan oleh Nayib Bukele, termasuk penahanan tanpa bukti dan pelanggaran hak asasi manusia, menimbulkan banyak perdebatan. Keamanan yang lebih baik bagi warga El Salvador menjadi pencapaian besar, tetapi dengan harga yang tidak sedikit. Transformasi negara ini menjadi contoh bagaimana tindakan drastis. Meskipun efektif dalam mengurangi kejahatan, dapat menimbulkan dampak jangka panjang pada hak-hak individu.

Sumber : Youtube

By ALEXA